Tampilkan postingan dengan label BMT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BMT. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Mei 2010

58 PERSEN PENDUDUK INDONESIA BELUM MENABUNG DI BANK

Sekira 58 persen penduduk Indonesia belum memiliki tabungan di bank. Jumlah tersebut, menurut data Bank Indonesia sebanyak 40 juta orang tergolong masyarakat menengah ke bawah yang belum memiliki akses ke bank.

"Golongan itu seperti nelayan, petani, buruh, tukang parkir dan pedagang asongan. Kelompok masyarakat ini enggan menabung di bank karena setoran awal dianggap cukup besar yakni rata-rata Rp 100.000 dan kena biaya administrasi bulanan," kata Deputi Regional Bank Indonesia Sumut-NAD, Achmad Fauzie pada Dialog Publik dan Interaktif Gerakan Indonesia Menabung yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informasi bekerjasama dengan Pemprovsu, Selasa (4/5) di Hotel Tiara Medan.

Menurutnya, Bank Indonesia dengan industri perbankan sebelumnya telah melaksanakan program edukasi perbankan (ayo ke bank) yang dicanangkan 27 Januari 2008 lalu oleh ibu negara di Monas. Sebagai kelanjutan program tersebut, BI dan industri perbankan ingin menciptakan budaya menabung masyarakat melalui program Gerakan Indonesia Menabung.

Sementara pengamat ekonomi dari Indef, Aviliani, mengatakan terdapat dua sumber pembentukan modal pembangunan yaitu dari dalam dan luar negeri (Sadono, 1985 dalam Aprilia, 2003).

Modal dari dalam luar negeri bersumber dari bantuan luar negeri dan Penanaman Modal Asing (PMA). Bantuan luarnegeri dapat bersumber dari pemerintah, badan-badan internasional atau pihak swasta. Sedangkan modal dalam negeri bersumber dari tabungan sukarela masyarakat, tabungan pemerintah dan tabungan paksa.

Modal Produktif

Dikatakan, beberapa kondisi yang menyatakan tabungan mendukung pembangunan yaitu pertama, para penabung menggunakan tabungan tersebut untuk penanaman modal yang produktif dalam arti penanaman modal yang akan menaikkan jumlah barang dan jasa yang tersedia dalam masyarakat. Kedua, tabungan dialirkan ke badan-badan keuangan kemudian dipinjamkan pada para pengusaha yang ingin melakukan penanaman modal produktif.

"Berdasarkan data dari BI 2004 hingga 2009, jumlah tabungan nasional mencapai Rp732.056 Triliun, naik dari Rp721.828. Ini membuktikan budaya menabung masyarakat kian tumbuh,"ujarnya.

Sementara, Kadis Kominfo Pemprovsu Eddy Sofyan mengatakan budaya menabung bagi sebahagian besar warga Sumut telah dimiliki. Namun belakangan budaya tersebut semakin memudar seiring peningkatan sifat konsumtif di masyarakat.

"Dulu, budaya menabung digambarkan orangtua yang tampil sederhana demi menabung agar anaknya bisa sekolah ke jenjang lebih tinggi," katanya.

Rabu, 2010-05-05 07:53:20Wib Sumber: http://www.pemkomedan.go.id/news_detail.php?id=9102
Read More

Sabtu, 17 April 2010

Bank Syariah tidak Sebatas Masalah Uang

JALAN Allah menentukan lain terhadap perjalanan Dr. H. M. Syafii Antonio, M.Ec. Syafii lahir di Sukabumi, Jawa Barat, 12 Mei 1965, dengan nama asli Nio Cwan Chung. Keseriusannya menekuni ekonomi syariah sehingga menjadi pakar ekonomi syariah terkemuka tak lepas dari kondisi umat Islam.

Kehidupan keluarga Syafii yang Kong Hu Chu sangat memberikan kebebasan dalam memilih agama sehingga sempat memilih agama Kristen Protestan. Namanya pun berganti menjadi Pilot Sagaran Antonio. "Anehnya, keluarga amat kecewa kalau saya memilih Islam sebagai agama," katanya seperti dikutip muallaf.com.

Sikap tersebut berangkat dari image gambaran buruk terhadap pemeluk Islam. Ayah saya sebenarnya melihat ajaran Islam itu bagus. Apalagi dilihat dari sisi Alquran dan hadis. "Tapi, ayah saya sangat heran pada pemeluk Islam yang tidak mencerminkan kesempurnaan ajaran agamanya," katanya.

Gambaran buruk tentang kaum Muslimin itu terlihat dari banyaknya umat Islam yang berada dalam kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan. "Bahkan, sampai mencuri sandal di musala pun dilakukan oleh umat Islam sendiri. Jadi keindahan dan kebagusan ajaran Islam dinodai oleh perilaku umatnya yang kurang baik," ungkapnya.

Kendati demikian, buruknya citra kaum Muslimin tak membuat saya kendur untuk mengetahui lebih jauh tentang agama Islam. Dalam melakukan studi perbandingan ini, Syafii menggunakan tiga pendekatan, yakni pendekatan sejarah, pendekatan alamiah, dan pendekatan nalar rasio biasa.

Berdasarkan tiga pendekatan itu, Syafii melihat Islam benar-benar agama yang mudah dipahami apalagi dengan Alquran. "Kitab suci ini penuh dengan kemukjizatan, baik ditinjau dari sisi bahasa, tatanan kata, isi, berita, keteraturan sastra, data-data ilmiah, dan berbagai aspek lainnya," katanya.

Ajaran Islam juga memiliki sistem nilai yang sangat lengkap dan komprehensif, meliputi sistem tatanan akidah, kepercayaan, dan tidak perlu perantara dalam beribadah.

Nama Syafii Antonio disematkan K.H. Abdullah bin Nuh al-Ghazali pada tahun 1984 ketika mengucapkan dua kalimat syahadat pertama kalinya. Kemudian ia mempelajari bahasa Arab di Pesantren an-Nidzom, Sukabumi, di bawah pimpinan K.H. Abdullah Muchtar.

Lulus SMA, Syafii melanjutkan ke ITB dan IKIP, tapi kemudian pindah ke IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Itu pun tidak lama, kemudian ia melanjutkan sekolah ke University of Jordan (Yordania).

"Selesai studi S-1, saya melanjutkan program S-2 di International Islamic University (IIU) di Malaysia, khusus mempelajari ekonomi Islam," kata pria yang aktif di Yayasan Haji Karim Oei yang khusus menangani mualaf warga keturunan.

Pendidikan terakhir Syafii yang menjabat pimpinan Yayasan Tazkia adalah S-3 Banking & Micro Finance, University of Melbourne dan lulus tahun 2004. Syafii masih tercatat sebagai Komite Ahli Pengembangan Perbankan Syariah pada Bank Indonesia dan dewan syariah di beberapa perbankan syariah.

Awal Syafii berkecimpung di perbankan syariah saat masih kuliah di Malaysia ketika bertemu delegasi Indonesia yang akan mendirikan bank syariah setelah melihat contoh bank syariah di Malaysia. Kembali ke Indonesia, ia bergabung dengan Bank Muamalat lalu dua tahun kemudian ikut mendirikan Asuransi Takaful dan reksadana syariah.

Ditemui di sela-sela Rakernas dan Temu Alumni Nasional ESQ di Bukittingi, Sumatra Barat, belum lama ini, Syafii menceritakan panjang lebar soal ekonomi syariah ini. Berikut petikan wawancaranya.

Ekonomi syariah dalam beberapa tahun terakhir tumbuh cepat, tapi dari segi kontribusi masih kecil. Tanggapan Anda?

Kalau kita runut perjalanan ekonomi syariah di Indonesia, baru berusia sekitar 15 tahun dengan enam tahun terakhir berkembang cepat. Ekonomi syariah mendapat tantangan cukup kuat karena sikap umat Islam sendiri yang memandang sebelah mata.

Ekonomi syariah harus dipandang secara holistik tidak terbatas pada uang dan perbankan. Ekonomi syariah meliputi aktivitas ekonomi dan sosial, produksi, pemasaran, keuangan, dan perbankan. Ekonomi syariah akan berkembang pesat apabila didukung semua komponen.

Pertama, secara conseptual development membutuhkan kajian ulama, pemikir, dan cendekiawan agar bisa menelaah nilai-nilai ekonomi syariah di dalam Alquran dan hadis. Perkembangan ekonomi syariah dalam zaman Umayah, Cordoba, dan lain-lain juga perlu dikaji.

Kedua, ekonomi syariah juga bisa berkembang baik apabila didukung kebijakan iklan, film, atau promosi lainnya yang tidak mengumbar aurat dan minuman keras. Ketiga, ulama yang sudah tahu ekonomi syariah harus giat mempromosikan produk-produk makanan dan minuman halal kepada ulama lain sehingga umat hanya mengonsumsi produk halal.

Keempat, ulama atau cendekiawan Muslim kalau ada kesempatan lebih baik menjadi pembina atau konsultan syariah agar bisa merasakan daripada di menara gading. Kelima, perbankan syariah tidak berarti tanpa pemberdayaan Koperasi Usaha Kecil dan Mikro (KUKM). Bisa saja bank syariah tidak Islami karena tidak memerhatikan KUKM.

Tak kalah pentingnya adalah sinergi dengan Timur Tengah dan negara-negara Organisasi Konferensi Islam (OKI). Sinergi ini bisa di sektor perdagangan, investasi, dan syukur-syukur terpadu mata uangnya yakni dinar.

Bagaimana dengan kontribusi perbankan syariah yang kecil hanya sekitar 2 persen dibandingkan dengan dunia perbankan pada umumnya?

Ha... ha... (tertawa). Anda ("PR"-red.) masih seperti pakar-pakar ekonomi lainnya yang menafsirkan bank syariah dan membandingkannya dengan bank konvensional. Persoalan bank syariah tidak sebatas masalah uang, melainkan juga mentalitas masyarakat.

Perbankan syariah akan berkembang apabila kita mencari nafkah secara Islami. Ekonomi syariah tergantung berapa persen kita mau mengislamkan kehidupan. Makin banyak masyarakat yang sadar dengan kehalalan produk, maka ekonomi syariah berkembang.

Demikian pula apabila kita menabung di bank syariah akan mengangkat ekonomi syariah. Kaum wanita memakai baju Muslimah atau peduli kehalalan kosmetika juga berpengaruh kepada ekonomi syaraiah.

Secara kuantitatif memang kontribusi bank syariah kepada perbankan nasional baru 1,8 persen. Akan tetapi, kalau kita bicara kesadaran masyarakat tentang ekonomi syariah, sudah jauh lebih besar. Banyak perguruan tinggi yang sudah mengajarkan ekonomi syariah seperti IAIN dan UIN, UI, Unair, UGM, Unpad, dan lain-lain.

Untuk penyelesaian sengketa ekonomi syariah oleh Pengadilan Agama (PA), kita harus jujur akui hakim-hakim PA untuk kasus-kasus perdata/muamalah ekonomi syariah perlu pendidikan sendiri. Jadi, secara kuantitatif bisa sebutkan persentase, tapi kualitatif tidak karena terjadi pertumbuhan.

Banyak juga keluhan di masyarakat terhadap perbankan syariah ini karena menilai sistem bagi hasil ternyata lebih mahal daripada bunga?

Keluhan seperti hanya kasuistis, tergantung dengan perbankan syariah dalam mengambil margin (laba), apakah labanya kecil atau besar. Faktor efisiensi juga menentukan, layaknya perbankan konvensional lainnya.

Kinerja masing-masing bank syariah dan kedewasaan bank syariah yang bersangkutan agar pembiayaannya bisa kompetitif. Tidak semua bank syariah pembiayaannya lebih mahal daripada bank konvensional karena hanya satu atau dua bank syariah yang mahal, tapi banyak juga yang baik. Kalau bank syariah bisa menampilkan keindahan Islam, masyarakat akan memilih.

Kira-kira pada tahun berapa perbankan syariah bisa memberi kontribusi signifikan terhadap ekonomi nasional?

Kalau bicara seperti itu, perbankan syariah baru terasa dari segi moneter apabila kontribusinya di atas 10 persen. Meski bank syariah sudah hadir 15 tahun lalu, tapi percepatannya baru antara tahun 2000-2001. Saya perkirakan kontribusi bank syariah bisa mencapai 10% pada tahun 2011-2012.

Banyak pihak menganggap perbankan syariah kurang berkembang karena pemerintah kurang menggarap sektor riil secara serius. Pendapat Anda?

Saya bagian dari bangsa Indonesia. Kita harus jujur mengakui pemerintah belum serius menggarap KUKM akibat organisasi pemerintah tidak terorganisasi dengan baik. Meneg UKM masih tergantung dananya dari Departemen Keuangan.

Belum lagi banyaknya program pemberdayaan KUKM yang tidak terorganisasi yakni ada di BUMN, pemda, maupun departemen di luar kewenangan Meneg KUKM. Jadi, ada KUKM yang bisa menerima pembinaan berkali-kali dari instansi berbeda-beda, tapi yang lain tidak.

Di AS ada lembaga bernama Small Business Administration (SBA) yang langsung di bawah presiden untuk mengordinasikan seluruh KUKM dari pembinaan, pembiayaan dll. Indonesia bisa meniru dengan membentuk lembaga semacam SBA.

Masalah di Indonesia bertambah pelik karena alokasi kredit perbankan sebesar 20 persen untuk KUM sudah dihilangkan. Hilangnya keharusan mengalokasikan 20 persen itu akibat desakan dari usaha-usaha besar. Belum lagi dengan sikap bank yang ingin mudah dalam menyalurkan kredit. Kalau soal mudah, memang benar karena kredit Rp 1 miliar bila dibagikan 1 juta, maka perlu 1.000 orang, sedangkan pengusaha besar cuma seorang. Ngurus 1.000 orang kan lebih susah

Pemerintah harus memiliki political will yang jelas soal KUKM ini. Yang paling mahal adalah pembinaan KUKM selain bantuan biaya modal. Bagaimana KUKM mendapat pelatihan agar bisa mendiri dan jaringan dengan usaha besar untuk pemasaran.

Para alumni ESQ yang tergabung dalam Forum Komunikasi Alumni (FKA) menggulirkan program pemberdayaan ekonomi bernama "Lentera 165" bekerja sama dengan Tazkiya. Bisa diceritakan programnya?

Program ini didorong oleh kenyataan jumlah penduduk miskin mencapai 40 juta. Sesungguhnya angka versi pemerintah tersebut adalah angka "bodong" karena dengan mengambil asumsi kalori setara dengan pendapatan Rp 152.000,00 per bulan. Kalau kita naikkan angka standar tersebut, jumlah kemiskinan naik. Misalnya, minimal pendapatan Rp 500.000,00 per bulan maka 60 persen penduduk Indonesia adalah miskin atau lebih dari 120 juta jiwa.

Lentera 165 merupakan kombinasi dari berbagai hal, baik kebijakan pemerintah maupun aksi nyata di lapangan yang dilakukan oleh lembaga-lembaga di masyarakat seperti FKA ESQ. Kepedulian FKA ESQ diwujudkan dengan mengajak Tazkiya yang sudah terbiasa dengan makro dan mikro dengan syariah dan UKM.

ESQ punya basis alumni dan keuangan dan Tazkiya dalam pemberdayaan KUKM dan ekonomi syariah sehingga kita sinergikan. Kita menggulirkan usaha kecil disertai dengan pembinaan terintegrasi moral dan spiritual.

Awalnya kita mencari nasabah-nasabah BaitulMaal Wat-Tamwil (BMT ) yang sudah ada dan minta kembangkan yang lebih luas lagi. Misalnya, dari modal seorang pedagang Rp 500.000,00, kita tambah menjadi Rp 1 juta. Selain dana, mekanisme kontrol kita buat dengan kerja sama LSM yang sudah terbiasa membina KUKM di daerah-daerah.

Dalam praktiknya, setiap lima orang pengusaha kecil dibuat satu kelompok dengan satu supervisor sebagai pengawas. Supervisor juga untuk memastikan tiap kelompok kumpul di masjid atau musala untuk membicarakan masalah di lapangan sekaligus mengembalikan cicilan modal yang didapatnya. Lentera 165 menggunakan beberapa model, termasuk model Grameen Bank yang sudah dimodifikasi.

Bagaimana dengan tingkat pengembalian bantuan modal bergulir ini?

Alhamdulillah 90 persen bantuan dari Lentera 165 bisa kembali dananya bahkan ada yang sudah beberapa guliran. Jumlah penerima seluruhnya 2.000 pengusaha kecil dengan jumlah bantuan Rp 300.000,00 sampai Rp 700.000,00. Kalau sudah dipercaya, jumlah bantuan dinaikkan sehingga sudah ada yang Rp 2 juta bahkan ada juga yang sudah minta Rp 10-13 juta. (Sarnapi/"PR")***



Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/032007/04/99akhirpekan.htm
Read More

Kamis, 15 April 2010

LAZNAS BMT ICMI COLLEGE

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Nasional

LAZNAS BMT ICMI COLLEGE, merupakan pusat pendidikan dan pelatihan nasional sumber daya insani BMT, entepreuneur, social leaders dan kader-kader pembangunan masyarakat berbasis unggulan lokal. Merupakan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Nasional LAZNAS BMT ICMI (Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal wat Tamwil) yang sejak 2002 dijadikan sebagai sumber mata air bagi lahirnya generasi bangsa, penerus umat yang berkualitas, mandiri, berketeladanan, berilmu pengetahuan, berspritualitas sempurna dan berkarya besar.

LAZNAS BMT ICMI sebagai payung nasional BMT seluruh Indonesia lebih lanjut secara profesional mengembangkan model-model pendidikan dan pelatihan Baitul Maal BMT, Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) dan Community Development yang sejak 1995 telah dipelopori dan dikembangkan di lingkungan masyarakat oleh lembaga umat Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan Bank Muamalat Indonesia (BMI) sebagai pendiri LAZNAS BMT ICMI.

Mencetak Sumber Daya Insani Enterpreuner, Penggerak dan Pendamping Masyarakat Sejak awal LAZNAS BMT ICMI menyadari bahwa SDM pengelola Baitul Maal BMT, Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) dan tenaga pendamping pemberdayaan masyarakat merupakan asset utama dalam meningkatkan kualitas sumber daya insani pembangunan bangsa. Seiring dengan bertambah pesatnya pertumbuhan BMT dan meningkatnya tuntutan pelayanan kepada masyarakat baik dalam bidang penggalangan, pegelolaan, pendayagunaan zakat, infaq dan shadaqah maupun dalam pengembangan usaha bisnis (simpan pinjam syariah) anggotanya, pendampingan kelompok usaha, pembinaan networking, strategic revolving fund, manajemen, akutansi, marketing, negosiasi dan berbagai skill lainnya yang merupakan prasyarat yang harus dimiliki insan BMT dan pelopor pembangunan dan pendamping masyarakat miskin.

BMT (Baitul Maal wat Tamwil) sebagai lembaga keuangan mikro syariah, sejak 1995 telah tumbuh dan berkembang dengan cepat, bahkan menjadi fenomena menarik dalam dunia pemberdayaan usaha mikro yang berbasis grass root di tanah air. BMT-BMT yang ditumbuhkan oleh Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (PINBUK), kini jumlahnya mencapai 3212 yang tersebar di seluruh penjuru tanah air. Penguatan SDM pengelola BMT yang profesional baik dalam aspek manajemen Baitul Maal, Baitul Tamwil, lembaga keuangan mikro syariah, Da’i Fakir Miskin BMT atau Tenaga Pendamping Pemberdayaan Masyarakat merupakan keharusan sebagai antisipasi perubahan dan tuntutan kebutuhan yang semakin kompetitif. Perkembangan dan pertumbuhan BMT yang cukup pesat harus diimbangi dengan penguatan SDM-nya yang terus menerus sehingga BMT dapat berkompetisi secara sehat dan tangguh.

KONSENTRASI :
1. Baitul Maal BMT
2. Syariah Microfinance (Lembaga Keuangan Mikro Syariah)
3. Syariah Small Bussines & Enterpreuner
4. Pemberdayaan Ekonomi Produktif Masyarakat Lokal
5. Pendampingan Masyarakat Miskin Perkotaan dan Perdesaan
6. Life Skill Usaha Mikro Kecil Rumah Tangga
7. ZISpreuner dan Wakafpreuner
8. Team and Character Building

PAKET PELATIHAN A. Pengelola/ Manajer BMT Pelatihan BMT I Pelatihan BMT II Pelatihan BMT III
Tujuan :
• Memberi pemahaman yang mendasar tentang kosepsi Baitul Maal wat Tamwil (BMT).
• Memberi pemahaman pola operasional BMT, skill, profesionalisme dan sistem operasional prosedur (SOP).
• Memperkuat ruhiyyah dalam pengelolaan BMT.
• Pendampingan kelompok-kelompok usaha muamaalah (pokusma)
B. Pengelola Baitul Maal BMT Tujuan :
• Memberi pemahaman yang mendasar tentang kosepsi Baitul Maal (BM).
• Memberi pemahaman pola Baitul Maal BMT, skill, profesionalisme dan sistem operasional prosedur (SOP).
• Memperkuat ruhiyyah dalam pengelolaan Baitul Maal BMT.

C. Character dan Team Building
Tujuan :
• Memberi pemahaman yang mendasar tentang character dan team building bagi pegiat dan manajer BMT dan para profesional di lembaga keuangan.
• Memperkuat motivasi, teamwork dan karakter manajer/karyawan dan pengurus BMT.
• Memperkuat ruhiyyah dalam pengelolaan BMT.

D. Akuntansi Syariah
Tujuan :
• Memberi pemahaman yang mendasar tentang akuntasi syariah dan sistem pengelolaan di lembaga keuangan mikro.
• Memperkuat kemapuan skill dan profesionalisme manajer keuangan dan pembiayaan BMT.

E. Software Akuntansi Syariah
Tujuan :
• Pemahaman yang mendasar tentang sistem dan software akuntasi syariah dan sistem pengelolaan di lembaga keuangan mikro.
• Memperkuat kemapuan skill dan profesionalisme dalam implementasi software akuntansi syariah BMT.

MATERI PELATIHAN PENGELOLA/MANAJER BMT
Modul Pelatihan BMT I
1) BMT sebagai agent perubahan tatanan ekonomi rakyat Konsep Dasar LKMS, BMT sebagai Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Bawah
2) Ekonomi Islam & Prinsip-Prinsip Muamalah Syariah
3) Pengertian Visi dan Misi BMT
4) Legalitas Badan Hukum usaha BMT
5) AD dan ART BMT
6) Struktur Organisasi dan Job Description Manajemen BMT
7) Produk dan Landasan Syariah Simpanan/ Tabungan
8.) Teknik Perhitungan Bagi Hasil Simpanan
9) Produk dan Landasan Syariah Pembiayaan/ Kredit
10.) Teknik Perhitungan Bagi Hasil Pembiayaan
11) Prosedur dan Administrasi Simpanan dan Pembiayaan
12) Strategi dan Teknik Penggalangan Dana
13) Kebiasaan efektif Manajemen BMT (proaktif, win-win solution, komunikasi empati, kerjasama sinergis)
14) Prosedur Pendirian BMT

Modul Pelatihan BMT II
• Microfinance sebagai alternatif Pengentasan Kemiskinan
• Analisa SWOT
• Proses dan Prosedur Pembiayaan
• Analisis Pembiayaan/Kredit Mikro
• Analisis Kelayakan Usaha Nasabah Anggota
• Segmentasi Pembiayaan
• Teknik Wawancara dengan Nasabah Anggota
• Pembinaan dan Pengawasan Pembiayaan/ Kredit
• Strategi Penanganan Pembiayaan Bermasalah
• Pendampingan Kelompok Usaha Masyarakat (POKUSMA)
• Strategi Pembinaan Anggota Nasabah
• Manajemen Dana-Asset and Labilities Management (ALMA)
• Manajemen Waktu
• Motivasi, Disiplin, Etika dan Etos Kerja (MDEE)

Modul Pelatihan BMT III
1) Akuntansi dan Pelaporan Keuangan
2) Budgeting dan Cashflow
3) Service Excelent dalam Pelayanan BMT
4) Pengembangan Jaringan Kerja
5) Analisis Kesehatan BMT (kinerja keuangan, kelembagaan, manajemen, visi-misi, sosial dan syariah)
6) Leadership Manajemen BMT
7) Kecerdasan Finansial
8.) Linkage Program dan Kemitraan (sponsor BUMN, Swasta Nasional Pemda/Pemkot, Perbankan dan Funding lainnya) 9) Negosiasi yang Efektif
10.) Teknik kerja Team Work
11) Teknik Penulisan Proposal Kredit Program

Nara Sumber:
1.Marwah Daud Ibrahim, PhD
2. Tjuk Eko Hari Basuki, Ir, MSt, PhD
3. Hadimulyo, MSc
4. Baihaqi Abdul Madjid, DRH
5. M. Nur A. Birton, MSi
6. M. Shabri Abdul Madjid, MEc, DR
7. Adjie Gutomo, Ir
8. Irfanul Islam
9. Zulfikar Zainuddin

FASILITATOR :
1. Saifuddin A. Rasyid
2. Dindin Sjafrudin
3. Muzakhir Rida
4. Tirmidzi Abdul Madjid
5. Muzakkir Muannas
6. Akhyar Sulhan
7. Ahmad Sani
8. Ratna Juita
9. Azhar Ahmad
10. Hayati
11. Wawan

Service LAZNAS BMT COLLEGE
1. Paket Pelatihan In House yang ditentukan oleh pihak sponsor (minimal 20 peserta)
2. Paket Pelatihan Reguler di Jakarta (minimal 20 peserta)
3. Peserta diutamakan dari Swasta, Ormas Islam, Instansi pemerintah/BUMN/ BUMD/DPRD/lainnya
4. Biaya Pelatihan disesuaikan dengan paket pelatihan.

Informasi dan Konsultasi Hubungi:

LAZNAS BMT ICMI COLLEGE
ICMI Center 4th Floor, Jl. Warung Jati Timur No. 1 Kalibata-Pancoran, Jakarta Selatan, Jakarta 12740 Telp. +62-021-7993019 Fax. +62-021-7993019 Website : http://www.bmt-link.co.id E-Mail : laznasbmt@yahoo.com, college@bmt-link.co.id Kontak Person : Husnul (021 33736898) atau Hafiz (08179111629) Rekening Transfer Biaya Pelatihan Bank Syariah Mandiri, Cabang Warung Buncit, Jakarta Selatan, Jakarta A/n. LAZNAS BMT No. 0030102966

Magang & Praktek di BMT

Pasca Pelatihan BMT (I, II, II), peserta dapat melanjutkan dengan magang dan belajar praktek langsung pengelolaan BMT di BMT yang telah berhasil. Peserta dapat mengajukan rencana pemagangan dan belajar praktek kepada LAZNAS BMT College untuk dikomunikasikan dan diatur tempat pemagangan pada BMT yang lokasinya terdekat dengan peserta. Peserta juga dapat mengajukan rencana magang di BMT BUS, Lasem, Rembang, Jawa Tengah yang telah mendapat ISO 9002;2000, dengan membiyai seluruh kebutuhan sendiri selama masa magang. LAZNAS BMT College akan merekomendasi dan mengatur waktu dan menyesuaikan dengan kesiapan BMT tempat magang.

Sumber: http://bmt-link.co.id/laznas-bmt-college/
Submitted by admin on March 23, 2010 – 2:30 pm
Read More

Sabtu, 10 April 2010

“Kalau Tidak Jalankan Baitul Maal, Jangan Pakai Nama BMT!”

Banyaknya BMT yang belum menjalankan fungsi Baitul Maal mendorong ICMI Pusat bersama BMT-BMT pada tahun 2002 lalu mendirikan LAZNAS BMT sebagai institusi yang mensertifikasi dan memayungi Baitul Maal BMT. Kesadaran pengurus BMT untuk menjalankan kesempurnaan konsep BMT perlu terus didorong dan dipicu. Karena banyak pengurus BMT yang tenggelam keasyikan di sektor bisnis semata dan kelupaan mengurus fungsi sosial dan ruhiyyah ummat.”Kalau BMT tidak menjalankan divisi baitul maal, lebih baik jangan pakai nama BMT” pinta Baihaqi Abdul Madjid didepan pengelola BMT se-Sumatera Barat pertengahan Maret lalu di Padang.

Kalau ada BMT-BMT yang telah beroperasi tetapi tidak menjalankan fungsi Baitul Maal-nya maka lebih baik jangan pakai nama BMT, pakai saja nama BT atau nama yang lainnya. Atau kalau niat mendirikan BMT hanya untuk cari uang saja, maka lebih baik jangan dengan mendirikan BMT, dirikan saja koperasi simpan pinjam atau sekalian Bank. Karena konsep BMT ya harus berjalan kedua sistem dan fungsinya secara seimbang. Tidak boleh timpang dan hanya ngambil satu fungsi saja. Kalau pengurus BMT hanya menjalankan fungsi Baitul Tamwil, yang enak saja karena ada uang, dia sama saja dengan Bani Israil yang hanya mengamalkan ajaran Taurat yang senang dihatinya.

Hal diatas dipaparkan Baihaqi Abdul Madjid, direktur LAZNAS BMT dihadapan 20-an peserta orientasi dan pelatihan pengelola program Asuransi Kesejahteraan Sosial (Askesos) melalui lembaga keuangan mikro syariah BMT se-provinsi Sumatera Barat pada pertengahan bulan Maret lalu di Aula kantor BMT Kube Sejahtera 050, Koto Tangah, Padang.

Selain itu, Baihaqi juga menjelaskan bahwa program Askesos melalui LKMS BMT yang telah berjalan ditahun keempat kerjasama LAZNAS BMT dengan Depsos sebenarnya merupakan program yang sangat mulia, yang sangat pantas BMT dapat menjalankan program ini dengan baik. Karena inti dari program ini adalah untuk memproteksi keadaan darurat sosial bagi banyak anggotanya dari kalangan masyarakat bawah yang mendadak tidak bisa mendapatkan penghasilan karena sakit atau meninggal. Bagi BMT-BMT program ini dapat dimanfaatkan untuk menset up kelembagaan fungi Baitul Maal BMT dan memulai menjalankannya kegiatan sosial.

Popularity: 40% [?]

Sumber: http://bmt-link.co.id/%E2%80%9Ckalau-bmt-tidak-jalankan-fungsi-baitul-maal-jangan-pakai-nama-bmt%E2%80%9D/
Submitted by admin on April 6, 2010 – 3:55 pm
Read More

Liputan Informasi Umum & Syari'ah

Liputan Informasi Koperasi Ekonomi Syariah Kemenneg KUKM Bank Syariah Dalam Negeri Informasi iB Kebijakan Bank Komunitas Dinas Koperasi dan UKM Politik Ekonomi Mikro Koperasi Syariah Bank indonesia Internasional Republika Online BMT Berbagi Pengalaman Resensi Buku APBN LKM Pasar Tradisional Pembiayaan Asbanda Asbisindo Bank Muamalat Indonesia (BMI) Bank Umum Syari'ah (BUS) Karir Manajemen Motivasi Perbanas Perbankan Syari'ah Bank Indonesia Perbarindo RAPBN Riba Suku Bunga ATM Ahad-Net International Al Ijarah Finance (Alif) Antara Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI) BBM Bersubsidi BNI Syari'ah BPH Migas BPPN BPRS BTN Syari'ah Bagi Hasil Bank Pembangunan Asia (ADB) Bank Pembangunan Islam (IDB) Beras Cerita Sukses DPR Dinar dan Dirham Exer Indonesia GAIKINDO GS Engineering Contruction Corp Gross Tones (GT) Gula Industri Kecil Joint Financing Auto Muamalat K-link Kelompok Bank Indonesia Kerjasama Konversi Bank Syariah Koperasi Internasional Korea investment dan Securities Co Korean Association of Church Communication Kredit Usaha Rakyat Lembaga Penjamin Simpanan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Menteri ESDM Menteri Koordinator Perekonomian Menteri Perdagangan Menteri Perindustrian Minyak Tanah Multi Level Marketing Syari'ah(MLMS) Nasabah Nelayan Obligasi Syari'ah Offshore Corporate Service One Day Approval Organisasi Buruh Internasional (ILO) Otomatif PDB PNBP Pameran Pasar Petisah Medan Pastor Pemegang Saham Pendidikan Perbankan Perikanan Pertamina Premium Produk Properti PusKopSyah BMT Sumut Real Estate Real Time Online SBI SUKUK Situs Berita APIndonesia.Com Solar Sorak Finanial Holdings Pte Ltd Tabungan Tehnologi Teroris Tim Keuangan Syari'ah Korea UFO BKB Uang Palsu Unit Jasa Keuangan Mikro Unit Usaha Syari'ah Utang Indonesia