Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Mei 2010

TRIAS POLITICAL 'ZAKAT'

Ada hal menarik dengan digelarnya Konferensi Zakat Asia Tenggara di kota Padang, 31 oktober hingga 3 November 2007. Konferensi ini merupakan lanjutan dari acara serupa yang digelar di Kuala Lumpur Mei 2006. Hal pertama yang menarik, ini tak lain merupakan pertemuan politik. Internasional lagi. Yang kedua, konferensi ini tengah membicarakan bagaimana meningkatkan profesionalisme zakat. Yang ujung-ujungnya tentu untuk fakir miskin.

Keempat yang tak kalah menariknya, Pemkot Padang jadi tuan rumah. Sementara yang lain lebih tertarik mengundang para pebisnis, Pemkot Padang malah ingin urus fakir miskin lebih serius. Ini sebuah terobosan politik, yang tentu tak mudah menggiringnya. Tinggal sekarang bagaimana tim di belakang layar, harus mampu menyiasahi agar konferensi ini tak jadi liar. Harus ada sesuatu, agar pengelolaan zakat Indonesia tentu lebih terarah ke depannya.

Politik mengenal tiga ranah. Pertama politik praktis. Kedua high politic. Serta ketiga hidden politic. Politik yang sehat meramu ketiganya. Tujuannya demi negara. Seseorang yang sukses, jadi pahlawan negerinya. Tapi di negara lain, bisa jadi dia dianggap monster paling dibenci. Itulah politik bernegara. Ketiganya tentu dikenal para praktisi partai di Indonesia. Namun prakteknya, politisi kita lebih suka hidden politic. Sayang hidden-nya untuk pribadi, kelompok atau cuma untuk partainya. Karena untuk bangsa hanya jargon kosong, high politic pun jadi mati suri. Kisruh di partai dan kecewa, solusinya buat partai perjuangan. Bagi yang belum berpartai, strateginya tak beda. Selalu saja cuatkan partai baru. Bicaranya sih untuk negara, Tapi hidden-nya selalu berakhir di pribadi dan kelompok.

Imbasnya, akhirnya juga melesak ke zakat. Bicara zakat, memang tak lepas dari politik. Sebab seperti yang sebagian ulama katakan, zakat merupakan keputusan politik paling penting dalam Islam. Kata paling penting mengacu pada tiga hal. Yang pertama zakat bukan hanya sekadar wajib. Karena yang kedua, zakat merupakan satu-satunya ibadah berdimensi ganda: vertikal dan horizontal. Karena itu yang ketiga, zakat pun dijadikan Rukun Islam. Pertanyaannya, mengapa zakat yang jadi Rukun Islam? Mengapa bukan bank dan mengapa bukan asuransi. Bukankah zakat hanya sekadar untuk fakir miskin. Mengapa kalangan marginal ini yang harus diperhatikan. Inilah substansi ‘Politik Zakat’ yang menjungkirkan logika berpikir manusia.
Politik Praktis

Untuk menjawabnya, tiga ranah politik di atas bisa dijadikan pembedah. Ditinjau dari politik praktis, tujuan zakat memang jangka pendek. Besarnya yang cuma 2.5% langsung ditujukan pada fakir miskin. Karena diwajibkan, semangat zakat pun diterapkan di semua denda. Kedudukan denda jadi wajib, karena memang ada pelanggaran. Seperti dam haji atau kafarat, pasti ditujukan untuk fakir miskin.

Kendati jangka pendek, tujuan zakat tak berhenti dipemenuhan kebutuhan semata. Ada tujuan mulya. Yang seperti ditegaskan Ibnu Taimiyah, penuhi kebutuhan agar mereka bisa beribadah normal seperti muzaki. Dalam ibadah, Islam memang tak memaksa. Tapi sebagai sesama muslim, saling ingatkan wajib hukumnya. Dan jangan pernah percaya, bahwa si miskin lebih soleh ketimbang si kaya. Soleh tidaknya seseorang, bukan ditentukan kaya miskinnya.

Tujuan agar fakir miskin bisa ibadah normal, tersiratnya ada ancaman bagi si kaya. Artinya keleluasaan beribadah, harus juga diberikan pada tetangganya yang tengah kesulitan. Maka jangan masuk surga sendirian. Dengan zakat, masukilah surga ramai-ramai.
High Politic

Dikaji dari sisi high politic, pesan zakat lebih kuat ketimbang pajak. Dengan zakat, pemerintah diajari membangun bangsa. Zakat diprioritaskan khusus untuk mustahik. Kendati luas, pengertian mustahik disederhanakan sebagai kalangan mustadh’afin. Pemerintah diajari, untuk perhatikan mereka. Bukan tergiur pada yang kaya atau punya kedudukan. Strategi trickle-down effect terbukti gagal total. Strategi itu disiasahi jadi trickle-up effect, yang kekayaan para konglomerat makin menjadi-jadi sekarang ini. Harusnya pemerintah mencegah kebablasan seperti itu.

Orang kaya memang tak harus sekaya konglomerat. Yang pasti mereka sudah mampu atasi diri sendiri. Lihat saja perbankan dan asuransi. Bukankah itu dibuat untuk pertahankan comfort zone mereka. Islam memang ajaran sempurna. Tentu tak adil jika Islam tetapkan bank dan asuransi jadi salah satu pilar Rukun Islam. Jika itu terjadi, maka uang akan berputar di antara orang kaya yang itu-itu juga. Dengan zakat, semangat itu diredam. Dengan zakat, ketamakan manusia digugat.

Dalam postulat manajemen, kekuatan organisasi terletak di simpul terlemah. Dengan temukan dan benahi yang lemah, lembaga manapun akan jadi kuat. Dengan benahi yang miskin, negara akan tumbuh realistis jadi kuat. Jumlah 120 juta orang miskin bukan simpul namanya. Itu ceruk kelemahan yang menganga lebar, yang siap membetot siapapun untuk jadi miskin. Yang bisa cegah, hanya pemerintah. Karena bicara kebijakan, itulah ranah high politic yang jadi hak penuh pemerintah.
Hidden Politic

Zakat ternyata punya hidden politic. Dalam istilah lain itulah hidden agenda. Untuk yang wajib, seperti shalat hanya lima waktu. Puasa yang wajib pun hanya di Ramadhan. Yang sunah, tak terhingga bilangannya. Islam memang luar biasa. Yang wajib, selalu sedikit jumlahnya. Zakat pun kan cuma 2.5%. Selebihnya yang 97.5%, suatu angka yang konteksnya boleh tak terhingga. Kekuatan bilangan tanpa batas ini tampak maknanya bila disingkap dari istilah zakat.

Kata lain zakat adalah sedekah. Sedekah terbagi dua. Ada materi serta ada yang tak berwujud. Yang awam melihat, materi punya peran lebih. Bagi mereka, dengan tunaikan zakat 2.5% selesailah tugas Rukun Islam ke-3. Padahal jika dikaitkan dengan kandungan kalifah fil’ard, ternyata 2.5% itu tak cukup. Tiap orang akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. Pemimpin bukan hanya para pejabat atau direktur saja. Pemimpin adalah minimal dia memimpin dirinya sendiri. Membawa diri sebagai pemimpin, artinya dia harus bisa memberi kebaikan dan kenyamanan bagi lingkungannya.

Maka sebagai muzaki, SBY sudah keluarkan sedekahnya zakat yang 2.5%. Sebagai presiden, apa sedekah SBY? Begitu juga dengan para pemimpin yang lain. Sebagai muzaki, mereka sudah keluarkan sedekahnya dalam bentuk zakat. Namun sebagai pemimpin, apa yang sudah mereka berikan. Sedekahnya para pemimpin, yang utama bukan zakat 2.5%. Sedekah terbesar para pemimpin adalah kebijakan.

Hidden agenda zakat memang mulya. Sedekah pemimpin tak lain membangun kehidupan dan peradaban. Di antara peradaban itu ada zakat 2.5%. Itulah yang khusus untuk perutnya para fakir miskin. Trias Political Zakat, hanya bisa diramu dan dikendalikan pemerintah. Pemkot Padang sudah memulai dengan cita-cita jadi the best practice zakat. Lantas, bagaimana dengan pemerintah pusat?

DIPOSTING OLEH Erie Sudewo PADA 10 June 2009
Sumber: http://eriesudewo.niriah.com/2009/06/trias-political-%E2%80%98zakat%E2%80%99/
Read More

Panduan Untuk Memulai Bisnis Berbasis Syariah

* Judul Buku: Bisnis Syariah Dari Nol:
Langkah Jitu Menuju Kaya, Penuh Berkah dan Bermakna

* Pengarang: Siti Najma
* Penerbit: Hikmah (PT. Mizan Publika)
* Jumlah halaman: 231
* Penulis Resensi: Nurjamila GB

Orang terkaya di dunia, Bill Gates, dan orang-orang terkaya setelahnya datang dari kalangan pebisnis. Begitu juga di Indonesia, kekayaan dikuasai oleh para pebisnis. Sesuai dengan hadits Nabi SAW, fakta ini menunjukkan bahwa berbisnis merupakan pintu utama rezeki. Selain itu, merujuk pada sejarah, profesi bisnis adalah profesi yang mulia, sebagian besar Nabi Allah merupakan pebisnis, termasuk Nabi Muhammad SAW.

Namun, sistem bisnis seperti apa yang akan Anda pilih?

Isi buku "Bisnis Syariah Dari Nol" ini benar-benar sesuai dengan judulnya. Seluk-beluk bisnis syariah yang saat ini sedang menjadi fenomena global dikupas, dimulai dari makna dibalik kata atau label syariah, yaitu penerapan nilai-nilai syariah sebagai penggerak dari seluruh proses bisnis yang ada. Kemudian tersedia contoh-contoh yang sangat praktikal dalam implementasi langkah-langkah yang harus ditempuh dalam memulai bisnis dari nol.

Seperti dalam hal bentuk etos seorang entrepreneurship Muslim. Dalam alQuran terdapat surat al Iqra' yang maknanya sangat dalam. Spirit kata Iqra' yang berarti "bacalah" ini sangat berhubungan dengan dunia bisnis. Sebagai seorang entrepreneur yang handal seharusnya memiliki kepekaan dalam "membaca" peluang, pandai menciptakan peluang, dan menyambut peluang yang ada. Sesuai hasil penelitian yang dilakukan seorang profesor dari Inggris, inilah yang membedakan orang yang beruntung dengan yang sial. Selain itu, ada berbagai bentuk etos entrepreneurship muslim lainnya, seperti tidak takut dengan resiko karena hidup adalah titipan Allah, pantang putus asa dan sabar menjalani, menghargai proses; semua dijabarkan satu per satu dengan rinci disertai contoh nyata untuk memudahkan pembaca mencerna dan mengerti penuh maknanya.

Begitu pula dalam bab "Menerapkan Sistem Syariah", tahap-tahap yang harus dilalui dalam membangun suatu bisnis dijabarkan secara menyeluruh dan disertai contoh-contoh praktikal. Cara memunculkan ide bisnis yang efektif, yaitu saat sepertiga malam terakhir, cara mengurus sertifikasi halal, membuat business plan yang realistis, analisa SWOT, membuat pembukuan, promosi, bagaimana menciptakan potential market menjadi potential buyer, sumber daya insani, sistem penggajian Islami yang jelas dan transparan.

Khusus bab "Melebarkan Jaringan Bisnis", keunggulan konsep bagi hasil yang menjadi khas sistem syariah dijelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti. Berbeda dengan sistem bisnis konvensional yang berbasis bunga dan mendewakan pemilik modal yang tidak mau rugi, konsep bagi hasil yang diterapkan sistem syariah memiliki keunggulan berupa keadilan, keuntungan besar dan kecil sama-sama dinikmati. Dengan sistem bagi hasil, pemodal dan pengelola memiliki posisi yang sama kuat; sama-sama memiliki kesempatan untuk untung dan rugi. Tidak lupa, penulis memberikah langkah-langkah jitu dan smart dalam mendapatkan modal, menjaring mitra, memilih bentuk kerjasama bagi hasil yang sesuai dengan bisnis yang dijalani. Semua dijelaskan satu per satu dengan bahasa yang mudah dipahami. Menjadikan kata "syariah" mudah dimengerti dan dicintai.

Buku ini patut dijadikan bacaan wajib bagi yang masih awam namun ingin memahami lebih dalam apa yang dimaksud dengan bisnis syariah, tanpa harus mengerutkan dahi!

Sumber: http://www.niriah.com/buku/5id15.html
Read More

Sukses Besar dengan Intervensi Allah

* Judul Buku: Sukses Besar dengan Intervensi Allah
* Pengarang:
Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec (Nio Gwan Cung)

* Penerbit: Tazkia Publishing

* Jumlah halaman: 262 (plus xxii)
* Penulis Resensi: Rocky Marcyano


Kita mungkin berat untuk berlama-lama berdoa, memohon kepada Allah Sang Maha Penguasa jagat raya, padahal siapa yang telah memberi kita kecukupan rizki?

Doa merupakan senjata ampuh yang mana dapat membuka sekat-sekat penutup rizki, juga merupakan obat bagi jiwa kita, dan suatu nilai plus apabila kita mampu menghafal Asma'ul Husna nama-nama Allah yang mulia.

"Allah mempunyai nama-nama yang baik (Asma'ul Husna), maka berdoalah dengan menyebut nama-nama itu..." (QS. Al-A'raf [7]:180).

Inilah sekilas isi dari buku karya Muhammad Syafi’i Antonio dengan judul "Sukses Besar dengan Intervensi Allah: The Power of Doa with Asmaul Husna for Success in Businesss in Life" yang diterbitkan Tazkia Publishing.

Dalam buku terbarunya ini, Syafi’i ingin mengajak kita memaknai Asma'ul Husna yang merupakan atribut milik Allah sekaligus merupakan hak prerogatif-Nya, mustahil ada mahluk yang mampu "memiliki" atau "melaksanakan" Asmaul Husna. Oleh karenanya, sudah selayaknya menjadikan satu-satunya tempat bergantung, bukan sebaliknya justru orang selama ini banyak yang menuhankan harta bendanya.

Menurut penelaahan Syafi’i, minimal ada lima upaya (bagian) dalam mengoptimalkan Asma’ul Husna sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Allah yaitu:

1.Mengenal Allah lebih dekat lagi melalui nama dan sifat-sifat-Nya.

2.Memohon segala kebutuhan kita hanya kepada Allah karena dia adalah As-Sami’ dan Al-Bashir .

3. Mengadukan segala bentuk keluh kesah dan penderitaan kita karena Dia begitu lembut dengan sifatnya yang Al-Lathif.

4. Meminta Perlindungan dari segala kekhawatiran maupun bahaya yang di tebar makhluk-makhluk-Nya.

5. Belajar Dan Meneladani tingkat tertinggi yang mampu dicapai oleh seorang hamba terhadap Allah melalui asma’ul husna adalah belajar dari sifat-sifat-Nya yang mulia serta meneladani karakter-Nya yang terpuji.

Mungkin selama ini kita hanya mengetahui Asma’ul Husna hanya berjumlah 99 nama. Padahal hadits tersebut menurut pendapat sebagian cendikiawan merupakan bukan suatu pembatasan tetapi berbentuk informasi. Artinya, Allah memiliki 99 nama dan Allah masih memiliki nama-nama lain.

Imam Qurtubi misalnya, dalam al-kitab al-asna fi syarh al asma’alhusna beliau menghimpun tidak kurang dari 200 Asma’ul Husna. Lain halnya dengan Imam Tobatoba’I dalam tafsir Al-Mizan menyusun Asma’ul Husna tak kurang dari 127 nama, sedangkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa terdapat bagian ulama yang menghimpun Asma’ul Husna lebih dari 1000 nama.

Ibarat makan yang tak pernah di lupakan, begitupun juga dengan doa yang wajib kita jadikan sebuah kebiasaan harian. Dalam bab 2 di jelaskan tentang waktu-waktu mustajab doa, serta kiat-kiat bagaimana doa kita segera diijabah Allah.

Pada bagian bab 3 buku ini mengajak kita memahami 99 asma’ul husna lewat untaian do’a yang ma’tsur maupun gubahan dari ulama besar seperti Abbas Aqqad dan Ahmad Syarbashi.

"Jangan berjuang sendirian, ajaklah Allah masuk kedalam proses perjuangan anda menuju sukses dalam bisnis, meniti karir yang cemerlang, menempuh jenjang studi , menciptakan keharmonisan keluarga dan berjuang dalam pembangunan menuju Indonesia yang lebih makmur dan sejahtera. Undanglah Allah untuk melakukan akselerasi dan intervensi melalui asma-asma-Nya," demikian pesan penulis diakhir bukunya.

Sumber: http://www.niriah.com/buku/5id18.html
Read More

Tips dan Trik Agar Cerdas dan Cerdik Mengelola Uang


* Judul Buku: Cerdas dan Cerdik Mengelola Uang
* Pengarang: Sri Khurniatun, RFA

* Penerbit: TransMedia Pustaka

* Jumlah halaman: 156
* Penulis Resensi: Sri K

Uang bukan segala-segalanya, tetapi segalanya tidak berjalan lancar tanpa adanya uang. Darimanapun sumber uang entah dari bekerja ataupun berwirausaha tetap butuh pengelolaan dengan baik agar tidak kebobolan oleh nafsu belanja, iming-iming kemudahan berhutang di depan mata maupun inflasi. Demikianlah prolog dari buku "Cerdas dan Cerdik Mengelola Uang" buah pena Sri Khurniatun, RFA.

Ini merupakan buku yang mengulik tentang keuangan secara komprehensif. Jarang ditemukan buku yang mengupas buku keuangan pribadi maupun keuangan bisnis dalam satu topik. Buku ini beda dan lebih beragam karena memuat dua bagian yaitu bagaimana mengelola keuangan pribadi dan bagaimana mengelola keuangan bisnis. Walhasil, buku ini menjadi lebih "fisien" karena menyajikan dua bahasan cukup dalam satu buku.

Bagian pertama buku, terdiri dari lima bab, mengupas tentang perencanaan keuangan pribadi, mulai dari pentingnya perencanaan keuangan bagi pribadi dan keluarga hingga kurangnya kesadaran warga Indonesia dalam menyusun rencana keuangan, tidak punya tujuan keuangan yang jelas, keterbatasan waktu, dan tidak menguasai ilmu mengelola keuangan dengan baik.

Pada bab berikutnya penulis membahas tips mengelola keuangan rumah tangga, sejak dari menentukan tujuan keuangan, menyusun anggaran keluarga, menentukan sistem pengelolaan penghasilan, pentingnya dana darurat dan asuransi, hingga tips membangun komunikasi keuangan dengan pasangan. Pada bab selanjutnya, penulis menyampaikan bahasan khusus tentang mengelola keuangan bagi kaum lajang, mengatasi hutang pribadi. Bagian ini ditutup dengan bahasan mengenai kiat memilih investasi. Ragam contoh produk investasi juga dibahas tuntas dalam bab terakhir dari bagian pertama ini.

Bagian kedua buku lebih fokus pada tips mengelola keuangan bagi pelaku usaha kecil yang biasanya belum memilili catatan keuangan yang rapi, contohnya uang bisnis dan uang pribadi masih tercampur, dan belum punya sistem pembukuan yang standard. Bahasan diawali dari merancang modal usaha, memilih sumber modal, mengenal jenis-jenis suku bunga kredit dan bagaimana memulai usaha dengan modal sendiri. Pada bab berikutnya dibahas pula teknis membuat pembukuan, laporan keuangan dan menghitung titip impas/break even point (BEP). Bab ini menyertakan contoh-contoh praktikal dalam bentuk tabel pembukuan maupun perhitungan yang sederhana sehingga dapat dikuti dengan mudah. Uniknya, di buku ini ada pula ditulis tips berbisnis dengan cara bagi hasil.

"Cerdas dan Cerdik Mengelola Uang" cukup pantas sebagai bacaan wajib bagi rumah tangga, khususnya rumah tangga pelaku usaha kecil yang masih awam dalam mengelola keuangan namun memerlukan petunjuk yang simpel dan mudah dimengerti.

Satu lagi kelebihan buku karya Sri Khurniatun RFA ini adalah, selain praktis dan simpel, juga menyertakan contoh kasus nyata dalam bentuk tanya jawab sehingga menjadikannya menjadi lebih mudah dicerna.

Barangkali tidak berlebihan apabila Ahmad Gozali, Perencana Keuangan Safir Senduk dan Rekan dalam pujian di buku ini menyebutkan, "Mau ngatur pengeluaran rumah tangga, menambah penghasilan sampingan, ngurusin hutang pribadi ataupun usaha, atau menambah modal usaha? Buku ini semua punya solusinya"

Ringkasnya, "Cerdas dan Cerdik Mengelola Uang" cocok dijadikan panduan bagi mereka yang menginginkan kehidupan keuangan pribadi maupun bisnis yang lebih terencana, teratur dan bijak!

Sumber: http://www.niriah.com/buku/5id20.html
Read More

Liputan Informasi Umum & Syari'ah

Liputan Informasi Koperasi Ekonomi Syariah Kemenneg KUKM Bank Syariah Dalam Negeri Informasi iB Kebijakan Bank Komunitas Dinas Koperasi dan UKM Politik Ekonomi Mikro Koperasi Syariah Bank indonesia Internasional Republika Online BMT Berbagi Pengalaman Resensi Buku APBN LKM Pasar Tradisional Pembiayaan Asbanda Asbisindo Bank Muamalat Indonesia (BMI) Bank Umum Syari'ah (BUS) Karir Manajemen Motivasi Perbanas Perbankan Syari'ah Bank Indonesia Perbarindo RAPBN Riba Suku Bunga ATM Ahad-Net International Al Ijarah Finance (Alif) Antara Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI) BBM Bersubsidi BNI Syari'ah BPH Migas BPPN BPRS BTN Syari'ah Bagi Hasil Bank Pembangunan Asia (ADB) Bank Pembangunan Islam (IDB) Beras Cerita Sukses DPR Dinar dan Dirham Exer Indonesia GAIKINDO GS Engineering Contruction Corp Gross Tones (GT) Gula Industri Kecil Joint Financing Auto Muamalat K-link Kelompok Bank Indonesia Kerjasama Konversi Bank Syariah Koperasi Internasional Korea investment dan Securities Co Korean Association of Church Communication Kredit Usaha Rakyat Lembaga Penjamin Simpanan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Menteri ESDM Menteri Koordinator Perekonomian Menteri Perdagangan Menteri Perindustrian Minyak Tanah Multi Level Marketing Syari'ah(MLMS) Nasabah Nelayan Obligasi Syari'ah Offshore Corporate Service One Day Approval Organisasi Buruh Internasional (ILO) Otomatif PDB PNBP Pameran Pasar Petisah Medan Pastor Pemegang Saham Pendidikan Perbankan Perikanan Pertamina Premium Produk Properti PusKopSyah BMT Sumut Real Estate Real Time Online SBI SUKUK Situs Berita APIndonesia.Com Solar Sorak Finanial Holdings Pte Ltd Tabungan Tehnologi Teroris Tim Keuangan Syari'ah Korea UFO BKB Uang Palsu Unit Jasa Keuangan Mikro Unit Usaha Syari'ah Utang Indonesia