Tampilkan postingan dengan label Bank Syariah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bank Syariah. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Agustus 2010

BMI Gelontorkan Rp 250 Miliar untuk AutoMuamalat

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Bank Muamalat Indonesia (BMI) menggandeng Al Ijarah Finance (Alif) untuk penyaluran pembiayaan otomotif. Untuk tahap awal BMI menggelontorkan dana Rp 250 miliar.

Direktur Utama BMI, Arviyan Arifin, mengatakan potensi pembiayaan konsumer sangat besar, termasuk otomotif. Dengan Gaikindo menargetkan penjualan mobil baru 600 ribu unit, maka potensi pembiayaan otomotif cukup besar, apalagi jika ditambah dengan penjualan mobil bekas.

''Kami menyadari BMI memiliki keterbatasan untuk menyalurkan pembiayaan konsumer karena itu sinergi dengan Alif ini menjadi salah satu jalan untuk masuk ke sana terutama pembiayaan otomotif,'' kata Arviyan dalam penandatanganan kerja sama joint financing AutoMuamalat di Arthaloka Building, Jakarta, Senin (30/8).

Di tahap awal sampai akhir tahun ini, lanjutnya, diharapkan dana Rp 250 miliar dapat digunakan seluruhnya untuk pembiayaan otomotif. ''Di tahun depan akan kita lihat lagi perkembangannya tapi setidaknya kami menyediakan dana Rp 1 triliun untuk pembiayaan otomotif yang akan disalurkan secara bertahap,'' jelas Arviyan.

Ia mengakui, dengan hadirnya sejumlah bank syariah baru di Tanah Air, pihaknya dituntut untuk lebih inovatif dan kompetitif. Selain pricing, pihaknya pun menonjolkan layanan dan kemudahan bagi nasabah yang mengajukan pembiayaan otomotif karena didukung sistem real time online dan direncanakan dapat memberi layanan one day approval kepada nasabah.
Red: Budi Raharjo
Rep: Yogie Respati
Sumber: Republika OnLine » Bisnis Syariah » Berita, Senin, 30 Agustus 2010, 14:01 WIB
Read More

Kamis, 26 Agustus 2010

Rupiah Bisa Melemah ke 9.000/US$

VIVAnews - Nilai tukar rupiah di pasar spot antarbank Jakarta diprediksi akan mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada transaksi menjelang akhir pekan ini, Kamis, 26 Agustus 2010.

Menurut Aruman, dealer valas PT Bank Mutiara Tbk, sentimen negatif rupiah pada transaksi hari ini lebih terpicu meningkatnya permintaan dolar AS menjelang akhir bulan ini. "Tapi hal ini hanya bersifat wajar, di mana ada permintaan dari korporat menjelang tutup bulan," kata dia kepada VIVAnews di Jakarta, hari ini.

Sedangkan pelemahan mata uang regional terhadap dolar AS yang tidak terlalu tajam, kata dia, tidak terlalu berpengaruh signifikan ke kurs rupiah. "Namun, kalau mata uang asing terus melemah terhadap dolar AS, bisa mendorong rupiah melemah kembali ke level 9.000 per dolar AS," tutur Aruman.

Pada saat dibuka pagi tadi, Aruman mengatakan rupiah melemah ke level 8.980-8.985 per dolar AS.

Berdasarkan data transaksi di Bloomberg hari ini pukul 08.45 WIB, mata uang nasional itu bergerak di posisi 8.987 per dolar AS. Sedangkan pada penutupan Rabu 25 Agustus 2010, di pasar spot antarbank Jakarta, mata uang lokal itu berakhir pada posisi 8.976 per dolar AS.

Sementara itu, menurut data kurs tengah mata uang asing Bank Indonesia kemarin, rupiah bertengger di level 8.976 per dolar AS dari perdagangan sehari sebelumnya yang berakhir di posisi 8.974 per dolar AS.

Sumber: Yahoo News, By Antique - Kamis, 26 Agustus 2010
Read More

Malaysia Raup Dana Besar dari Bisnis Bank RI

VIVAnews - Buntut penahanan tiga petugas Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Indonesia oleh Polisi Laut Malaysia (MPM) di perairan Tanjung Berakit, Bintan, 13 Agustus 2010 memicu memanasnya kembali hubungan Indonesia dan Malaysia. Aksi demonstrasi pun marak sejak awal pekan ini di Jakarta.
Namun, merebaknya aksi unjuk rasa itu direspons oleh Menteri Luar Negeri Malaysia, Anifah Aman, dengan melontarkan pernyataan paling keras sejak aksi demonstrasi itu kian marak. Bahkan, Malaysia siap mengeluarkan saran-saran perjalanan (travel advisory) kepada warganya berhati-hati ke Indonesia.
Meski demikian, di sektor bisnis, Malaysia sudah cukup jauh melangkah ke Indonesia. Malaysia telah merambah ke berbagai sektor bisnis strategis di Indonesia, mulai sektor telekomunikasi, perminyakan, perkebunan, perbankan, penerbangan, dan berbagai sektor bisnis lainnya.
Mereka memanfaatkan pasar Indonesia yang cukup besar. Jumlah penduduk 237 juta jiwa merupakan target besar untuk menjaring keuntungan dari negeri ini, ketimbang jumlah penduduk Malaysia yang hanya 27 juta jiwa.
Tengok saja di bisnis perbankan. Di Indonesia, dua bank papan atas dikuasai oleh Malaysia, yakni PT Bank CIMB Niaga Tbk dan PT Bank International Indonesia Tbk (BII). Dua bank ini masuk 10 besar bank di Indonesia, bahkan CIMB berada di peringkat lima dari sisi aset.
CIMB Niaga misalnya. Berdasarkan data laporan keuangan per 30 Juni 2010, aset bank milik perusahaan Malaysia melejit menjadi Rp126,33 triliun. Padahal, pada akhir 2007, aset Bank CIMB Niaga baru mencapai Rp93,79 triliun.
Selama periode itu, Bank CIMB Niaga mampu menghimpun simpanan dari nasabah senilai Rp106,17 triliun hingga akhir Juni 2010. Sedangkan, CIMB Niaga meraup laba Rp1,1 triliun hanya dalam semester I 2010.
Selain CIMB Niaga, perusahaan jasa keuangan Malaysia juga memiliki BII. Bank bekas milik Grup Sinar Mas ini memiliki dana pihak ketiga Rp48 triliun dan aset Rp61 triliun pada akhir 2009. BII memiliki 261 kantor di Indonesia.
Jika ditotal, aset CIMB Niaga dan BII mencapai Rp187 triliun. Jumlah ini memang masih kalah dibandingkan dengan aset bank yang dikendalikan pemerintah atau pengusaha nasional, seperti Bank Mandiri, BRI, BCA dan BNI.
***
Masuknya Malaysia ke bisnis perbankan Indonesia itu bermula dari kebijakan pemerintah membuka keran bagi investor asing untuk membeli bank-bank yang dikuasai oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Itu berawal pada November 2002, Commerce Asset-Holding Berhad (CAHB), atau dikenal sebagai CIMB Group Holdings Berhad (CIMB Group Holdings), Malaysia, mengakuisisi mayoritas saham PT Bank Niaga Tbk (BNGA) dari BPPN.
Sebelumnya, selama beberapa waktu, pemerintah Republik Indonesia pernah menjadi pemegang saham mayoritas Bank Niaga saat terjadinya krisis keuangan di akhir 1990-an.
Selanjutnya, pada Agustus 2007, seluruh kepemilikan saham berpindah tangan ke CIMB Group. Langkah itu merupakan bagian dari reorganisasi
internal untuk mengonsolidasi kegiatan anak perusahaan CIMB Group dengan platform universal banking.
Pada transaksi terpisah, Khazanah, pemilik saham mayoritas CIMB Group Holdings mengakuisisi kepemilikan mayoritas Lippo Bank pada 30 September 2005. Tiga tahun kemudian, seluruh kepemilikan saham Lippo Bank berpindah tangan ke CIMB Group pada 28 Oktober 2008.
Guna mematuhi kebijakan Single Presence Policy (SPP) yang ditetapkan Bank Indonesia (BI), sebagai pengendali Bank Niaga (melalui CIMB Group) dan Lippo Bank sejak 2007, Khazanah pun memandang penggabungan (merger) sebagai suatu upaya yang harus ditempuh.
Penggabungan dua bank pun terealisasi dan merupakan merger pertama di Indonesia terkait kebijakan SPP. Pada Mei 2008, nama Bank Niaga berubah menjadi Bank CIMB Niaga. Bergabungnya Lippo Bank ke dalam Bank CIMB Niaga itu diklaim sebagai lompatan besar di sektor perbankan Asia Tenggara.
Akan halnya BII, juga dilepas oleh BPPN kepada konsorsium Sorak pada Desember 2003. Konsorsium Sorak terdiri dari Asia Financial Holdings Pte. Ltd, Kookmin Bank, ICB Financial Group Holdings Ltd dan Barclays Bank PLC.
Namun, pada 30 September 2008, 55,51 persen saham Sorak diambilalih oleh Mayban Offshore Corporate Services (Labuan) Sdn. Bhd, anak perusahaan yang dimiliki sepenuhnya oleh Malayan Banking Berhad (Maybank). Maybank adalah salah satu grup bisnis perbankan besar di Malaysia. (hs)

Sumber: Yahoo NewsBy Arinto Tri Wibowo - Kamis, 26 Agustus 2010
Read More

Bank Ramai-ramai Tolak Fee OJK

VIVAnews - Perbankan bakal beramai-ramai menolak biaya (fee) pengawasan yang direncanakan dipungut Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Alasannya, bank telah dibebani untuk membayar premi di Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan juga membayar pajak.

Menurut Ketua Perhimpunan Bank-bank Nasional Swasta (Perbanas), Sigit Pramono, bank memilih untuk tetap diawasi, namun tidak perlu membayar fee.

"Perbankan keberatan dikenai tambahan beban biaya," ujar Sigit pada rapat Pansus OJK di gedung DPR, Jakarta, Rabu 25 Agustus 2010.

Menurut dia, anggota Perbanas tidak semuanya bank besar, sehingga keberatan jika dibebankan biaya tambahan.

Sementara itu, Sekretaris Umum Asosiasi Bank-bank Syariah Indonesia (Asbisindo), Bambang Sutrisno juga menolak pembiayaan OJK dibebankan kepada perbankan. Alasannya, sebagai badan usaha, perusahaan telah membayar pajak dan kewajiban lainnya.

"Jadi kurang pada tempatnya kalau pembiayaan OJK dibebankan kepada kami," ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Sekjen Persatuan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo), Joko Suyanto, yang meminta BPR tidak dipungut biaya apa pun karena terbatasnya dana.

Ketua Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda), Winny Erwindia, juga mengamini usulan Perbanas agar OJK tidak membebankan biaya pengawasan kepada industri.

Sumber: Yahoo News,  By Arinto Tri Wibowo, Nur Farida Ahniar - Kamis, 26 Agustus
Read More

Awas, Uang Palsu di Penukaran Pinggir Jalan

VIVAnews - Bank Indonesia (BI) meminta masyarakat waspada terhadap uang palsu yang diselipkan di pecahan uang baru yang ditawarkan di pinggir jalan. Sebab, jumlah uang palsu menjelang lebaran mengalami kenaikan.

"Kami tidak menutup keinginan masyarakat membeli uang di pinggir jalan. Namun, harus juga waspada, kadang-kadang diselip, atau mungkin jumlahnya tidak 100 lembar," kata Deputi Gubernur BI, Budi Rochadi, usai meninjau lokasi penukaran uang di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Rabu 25 Agustus 2010.

Read More

Jumat, 20 Agustus 2010

Tabungan Juga Harus Bayar Zakat?

Alwan telah mengirimkan pertanyaan : Tanya:  Ass.wrwb. Ustadz, jika sudah mengeluarkan zakat profesi 2,5 persen, maka bunga tabungan yang ada di bank non syariah apakah mesti dikeluarkan semuanya setelah dikurangi administrasi atau jumlah tabungan saja yang dihitung setahun yang dikeluarkan 2,5 persen lagi? Mohon penjelasannya. Terimakasih . Wass. (Alwan)

Read More

Jumat, 07 Mei 2010

58 PERSEN PENDUDUK INDONESIA BELUM MENABUNG DI BANK

Sekira 58 persen penduduk Indonesia belum memiliki tabungan di bank. Jumlah tersebut, menurut data Bank Indonesia sebanyak 40 juta orang tergolong masyarakat menengah ke bawah yang belum memiliki akses ke bank.

"Golongan itu seperti nelayan, petani, buruh, tukang parkir dan pedagang asongan. Kelompok masyarakat ini enggan menabung di bank karena setoran awal dianggap cukup besar yakni rata-rata Rp 100.000 dan kena biaya administrasi bulanan," kata Deputi Regional Bank Indonesia Sumut-NAD, Achmad Fauzie pada Dialog Publik dan Interaktif Gerakan Indonesia Menabung yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informasi bekerjasama dengan Pemprovsu, Selasa (4/5) di Hotel Tiara Medan.

Menurutnya, Bank Indonesia dengan industri perbankan sebelumnya telah melaksanakan program edukasi perbankan (ayo ke bank) yang dicanangkan 27 Januari 2008 lalu oleh ibu negara di Monas. Sebagai kelanjutan program tersebut, BI dan industri perbankan ingin menciptakan budaya menabung masyarakat melalui program Gerakan Indonesia Menabung.

Sementara pengamat ekonomi dari Indef, Aviliani, mengatakan terdapat dua sumber pembentukan modal pembangunan yaitu dari dalam dan luar negeri (Sadono, 1985 dalam Aprilia, 2003).

Modal dari dalam luar negeri bersumber dari bantuan luar negeri dan Penanaman Modal Asing (PMA). Bantuan luarnegeri dapat bersumber dari pemerintah, badan-badan internasional atau pihak swasta. Sedangkan modal dalam negeri bersumber dari tabungan sukarela masyarakat, tabungan pemerintah dan tabungan paksa.

Modal Produktif

Dikatakan, beberapa kondisi yang menyatakan tabungan mendukung pembangunan yaitu pertama, para penabung menggunakan tabungan tersebut untuk penanaman modal yang produktif dalam arti penanaman modal yang akan menaikkan jumlah barang dan jasa yang tersedia dalam masyarakat. Kedua, tabungan dialirkan ke badan-badan keuangan kemudian dipinjamkan pada para pengusaha yang ingin melakukan penanaman modal produktif.

"Berdasarkan data dari BI 2004 hingga 2009, jumlah tabungan nasional mencapai Rp732.056 Triliun, naik dari Rp721.828. Ini membuktikan budaya menabung masyarakat kian tumbuh,"ujarnya.

Sementara, Kadis Kominfo Pemprovsu Eddy Sofyan mengatakan budaya menabung bagi sebahagian besar warga Sumut telah dimiliki. Namun belakangan budaya tersebut semakin memudar seiring peningkatan sifat konsumtif di masyarakat.

"Dulu, budaya menabung digambarkan orangtua yang tampil sederhana demi menabung agar anaknya bisa sekolah ke jenjang lebih tinggi," katanya.

Rabu, 2010-05-05 07:53:20Wib Sumber: http://www.pemkomedan.go.id/news_detail.php?id=9102
Read More

Sabtu, 10 April 2010

BCA Syariah Beroperasi, Pembiayaan Diserbu

BCA Syariah yang merupakan konversi dari Bank UIB telah mengantongi ijin operasional sebagai bank syariah pada 2 Maret 2010. Berdasarkan keputusan Gubernur BI No 12/13/KEP.GBI/DpG/2010, maka Bank UIB telah selesai dikonversi dari bank konvensional menjadi bank syariah pada 3 Maret 2010. Dengan mengantongi ijin tersebut, hari Senin (5/4), BCA Syariah mulai beroperasi sebagai pemain baru dalam industri perbankan syariah dengan mengusung visi utama, yaitu Bank Syariah Andalan dan Pilihan Masyarakat.

Direktur utama BCA Syariah,Yana Rosiana mengatakan kehadiran BCA Syariah dalam industri perbankan Islam di tanah air diharapkan akan memacu pertumbuhan kinerja bank berbasis syariah di Indonesia. BCA Syariah kini mencatatkan total asetnya Rp 776 miliar dengan modal sebesar Rp 296miliar.

"Insya Allah BCA Syariah bisa menjadi pilihan dan andalan masyarakat yang selama ini menantikan kehadiran sebuah perbankan syariah yang mmberikan layanan lebih baik dengan jangkauan lebih luas," kata Yana di kantor pusat BCA Syariah, Senin (5/4).

Pada tahap awal, layanan BCA Syariahkan didukung oleh 11 kantor cabang yang terdiri dari sembilan kantor di Jakarta dan dua kantor di Surabaya. Adapun produk pendanaan yang ditawarkan oleh BCA Syariah adalah tabungan, giro dan deposito,ementara produk pembiayaan berupa pembiayaan modal kerja, pembiayaan investasi, pembiayaan KPR dan pembiayaan KKB. Selain melalui kantor BCA Syariah, lanjutnya,layanan perbankan BCA Syariah pun dapat dilakukan melalui jaringan cabang BCA yang ada saat ini.

Sumber: Republika
Read More

Liputan Informasi Umum & Syari'ah

Liputan Informasi Koperasi Ekonomi Syariah Kemenneg KUKM Bank Syariah Dalam Negeri Informasi iB Kebijakan Bank Komunitas Dinas Koperasi dan UKM Politik Ekonomi Mikro Koperasi Syariah Bank indonesia Internasional Republika Online BMT Berbagi Pengalaman Resensi Buku APBN LKM Pasar Tradisional Pembiayaan Asbanda Asbisindo Bank Muamalat Indonesia (BMI) Bank Umum Syari'ah (BUS) Karir Manajemen Motivasi Perbanas Perbankan Syari'ah Bank Indonesia Perbarindo RAPBN Riba Suku Bunga ATM Ahad-Net International Al Ijarah Finance (Alif) Antara Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI) BBM Bersubsidi BNI Syari'ah BPH Migas BPPN BPRS BTN Syari'ah Bagi Hasil Bank Pembangunan Asia (ADB) Bank Pembangunan Islam (IDB) Beras Cerita Sukses DPR Dinar dan Dirham Exer Indonesia GAIKINDO GS Engineering Contruction Corp Gross Tones (GT) Gula Industri Kecil Joint Financing Auto Muamalat K-link Kelompok Bank Indonesia Kerjasama Konversi Bank Syariah Koperasi Internasional Korea investment dan Securities Co Korean Association of Church Communication Kredit Usaha Rakyat Lembaga Penjamin Simpanan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Menteri ESDM Menteri Koordinator Perekonomian Menteri Perdagangan Menteri Perindustrian Minyak Tanah Multi Level Marketing Syari'ah(MLMS) Nasabah Nelayan Obligasi Syari'ah Offshore Corporate Service One Day Approval Organisasi Buruh Internasional (ILO) Otomatif PDB PNBP Pameran Pasar Petisah Medan Pastor Pemegang Saham Pendidikan Perbankan Perikanan Pertamina Premium Produk Properti PusKopSyah BMT Sumut Real Estate Real Time Online SBI SUKUK Situs Berita APIndonesia.Com Solar Sorak Finanial Holdings Pte Ltd Tabungan Tehnologi Teroris Tim Keuangan Syari'ah Korea UFO BKB Uang Palsu Unit Jasa Keuangan Mikro Unit Usaha Syari'ah Utang Indonesia