Tampilkan postingan dengan label Berbagi Pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berbagi Pengalaman. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 April 2010

Perkembangan Koperasi di Negara Bagian Johor, Malaysia.

Dalam beberapa dekade terakhir usaha perkoperasiaan di Johor mengalami perkembangan yang tumbuh dengan pesat. Beberapa koperasi di negara bagian ini kerap menjadi koperasi terbaik di Malaysia. Bahkan sejumlah tokoh koperasi nasional di Malaysia mengawali karir koperasi di Johor.
Gerakan koperasi pertama kali bertapak di Malaysia jauh sebelum negara itu terbentuk pada pertengahan dekade 50-an. Pada tahun 1922, sebuah koperasi untuk pertama kalinya berdiri dengan nama Syarikat Bekerjasama-sama Kampung Tebuk Haji Musa. Pada kisaran waktu yang sama, berdiri pula The Federated Malay States Posts and Telegraphs Cooperative Thrift and Loan Society. Koperasi ini kelak bertransformasi menjadi koperasi Kakitangan Telekom Malaysia Berhad, disingkat Kotamas.

Setelah itu koperasi menyebar ke negara-negara bagian lainnya, menyeberang ke serawak pada tahun 1949 dan di sabah pada tahun 1959.
Perkembangan koperasi di Malaysia tepatnya di negara bagian johor begitu tumbuh pesat ini tidak terlepas dari manajemen yang rapi serta dukungan dari pemerintah malasyia, demi memajukan koperasi di negara tersebut. Selain faktor tersebut ada yang menyebabkan perkembangan koperasi di Malaysia mengalami pertumbuhan yang pesat ini dikarenakan negara bagian johor cukup strategis dalam peta perekonomian Malaysia. Apalagi, negara bagian Malaysia ini sangat berdekatan atau hanya dipisahkan selat sempit dengan Singapura, salah Satu Magnet Perekonomian Asia.

Keuntungan secara geografis dengan Singapura, rupanya dimanfaatkan betul oleh pemerintah negara bagian Johor, guna membangun akses ekonomi atau bisnis dengan negara pulau itu. Pemabangunan infrastruktur pun dilakukan. Sebuah jembatan antarpulau bernama Tambak Johor kokoh berdiri. Satu lagi jembatan yang akan menghubungkan kedua negara sedang disiapkan. Kini terbukti, lalu lintas manusia dan perdagangan antarkedua negara semakin lancar. Dampaknya, pertumbuhan ekonomi Johor turut terpacu.

Kini setidaknya ada 440 koperasi di Johor dengan jumlah anggota sekitar 350,000 orang, serta total aset senilai RM 420 juta serta simpanan tunai sekitar RM 141 juta. Sejumlah koperasi dengan manajemen yang sangat baik dapat ditemui di Johor, antara lain koperasi Guru-Guru Johor Berhad, koperasi universitas Teknologi Malaysia Berhad, dan koperasi Permodalan Melayu Negeri Johor Berhad ini merupakan koperasi yang dijalankan. Koperasi Guru-Guru Johor yang didirikan pada 11 September 1953, kini memiliki aset sebesar RM 8,36 juta, atau sekitar Rp 33 miliar (data tahun 2002). Koperasi para guru itu selain menyediakan layanan simpan pinjam, juga aktif dalam perdagangan barang-barang konsumsi, dengan jenis usaha yang kian meluas di negara bagian johor. Koperasi Universitas Teknologi Malaysia , juga hadir sebagai salah satu koperasi terbaik di Malaysia koperasi ini sekarang memiliki 2.547 anggota terdiri atas dosen, karyawan, dan professional di UTM, baik yang ada di Johor maupun Kuala Lumpur. Didirikan tahun 1948, koperas UTM kini mengelola berbagai jenis usaha, seperti toko buku, kafe, mini market, bengkel, dan leasing barang-barang elektronik.

Adapun koperasi Permodalan Melayu Negeri Johor Berhad adalah koperasi yang menyediakan kredit usaha yang sangat kesohor di tanah Johor. Berdiri pada 1965, atas prakarsa Tan Sri Dato’ Haji Basir Bin Ismail, seorang tokoh yang menyadari pentingnya pribumi Melayu bersatu untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Koperasi ini kini mampu meraup sisa hasil usaha sebesar RM 1,45 juta.
Dukungan pemerintah Malaysia dalam pembangunan koperasi juga cukup kuat. Seperti halnya di Indonesia, pemerintah Malaysia menyediakan bantuan dana dan teknis dan pendidikan kepada kalangan koperasi. Setiap tahun, pemerintah juga memberikan penghargaan kepada koperasi berprestasi. Penghargaan tahun ini dianugerahkan kepada koperasi Perumahan Kluang Berhad sebagai koperasi yang berkualitas se Johor. Penghargaan juga diberikan kepada Prof Madya Mohammad Ali Hasan sebagai Tokoh koperasi Johor 2005.

Sumber:majidnanlohy.blogspot.com
Read More

Selasa, 20 April 2010

Suskes Installasi ATM di LPD Kepaon - Bali

Beberapa waktu yang lalu PT. USSI bekerjasama dengan salah satu LPD (Lembaga Perkreditan Desa) yaitu lembaga keuangan tingkat desa yang ada di pulau bali yang jumlahnya kurang lebih 1300 LPD untuk seluruh Bali. Kerjasama yang dimaksud adalah merealisasikan keinginan LPD untuk memiliki ATM sendiri sebagai sarana untuk peningkatan pelayanan terhadap nasabah.

Ini adalah momen yang sangat penting dan berharga bagi USSI juga bagi LKM di Indonesia karena telah berhasil menunjukkan kemampuan ditengah keraguan masyarakat dan lembaga-lembaga besar yang selama ini memandang lembaga keuangan mikro hanyalah sebagai lembaga yang kecil dari sisi kemampuan dan tertinggal dari sisi teknologi.

Semua mata seperti terbelalak ketika membaca berita baik di media lokal maupun media nasional lainnya pada tanggal 9 Nopember lalu yang memuat berita sebuah LKM yaitu LPD Kepaon - Bali mampu memasang ATM untuk pelayanan transaksi terhadap nasabah dan yang lebih dahsyat lagi ternyata ada vendor "PT. USSI" yang bisa dan mampu melayani dan merealisasikan operasional ATM di lembaga keuangan mikro. Tak ayal seorang walikota dan Gubernur pun sangat berkenan dan berkepentingan meresmikan operasional ATM tersebut karena ini juga merupakan kebanggaan bagi mereka mengingat hal tersebut secara otomatis akan berdampak baik bagi kepercayaan masyarakat terhadap keseriusan pemerintah daerah terhadap pelayanan masyarakat, dan tentunya kepercayaan terhadap LPD sebagai lembaga keuangan mikro asli hasil Peraturan Daerah Propinsi yang identik dengan Pariwisata tersebut.

Posted by :Sat, 12/08/2007 - 11:09 - masjito
Sumber: http://www.ussi-online.com/node/143

Read More

Sabtu, 17 April 2010

Dr. Muhammad Yunus Dan Graamen Bank

Sistim Menciptakan Kemiskinan
M. Syamsi Ali
Imam Mesjid Al Hikmah, New York, USA

Dua hari lalu, 11 Pebruari, saya mendapat kesempatan untuk menghadir dalam sebuah pertemuan terbatas dengan peraih Hadiah Nobel 2006, Dr. Muhammad Yunus, dari Bangladesh dengan Presiden York College, para ilmuan dan tokoh-tokoh masyarakat Muslim New York. Acara yang dilaksanakan di York College, salah satu dari beberapa universitas di bawah atap CUNY (City University of New York), sebelum beliau menyampaikan ceramah umumnya kepada khalayak ramai.

Ada dua tujuan pokok kunjungan peraih Nobel itu ke York College. Pertama, untuk acara peluncuran bukunya yang baru terbit dengan judul “Creating a World Without Poverty” dan peluncuran Yunus Scholarship untuk anak-anak mereka yang menjadi anggota (costumers) bank Grameen yang ingin belajar di York College. Yunus Scholarship telah memberikan beasiswa kepada 71 ribu pelajar dalam negeri dan sekitar 3500 pelajar Bangladesh di berbagai negara lainnya.

Dr. Yunus dalam acara yang dirancang mendadak itu menjelaskan secara singkat, tapi padat, tentang operasi usahanya dalam upaya mengangkat masyarakat miskin menjadi masyarakat yang berdaya (empowerment of the poor).

Di awal ceramahnya dijelaskan bagaimana beliau memulai usaha itu dengan meminjamkan uang $27 kepada beberapa wanita miskin di kampungnya. Dari usaha itu kemudian berkembang dan hingga kini memiliki aset tidak kurang dari 7.5 milyar USD di Bangladesh dan di berbagai belahan dunia. Sembilan puluh lima persen dari pemegang saham bank Grameen adalah wanita-wanita miskin dari perkampungan.

Hingga kini Grameen bank Bangladesh telah berhasil membangun, tidak saja perekonomian kaum miskin, tapi juga kehormatan dan martabat mereka. Dalam ceramah singkat itu Dr. Yunus mencoba menjawab beberapa pertanyaan krusial, seperti kenapa ada kemiskinan? Siapa yang mecipkatakan kemiskinan dan bagaimana menghadapi dan memerangi kemiskinan?

Kunci Kesuksesan Grameen Bank
Dengan berseloroh, Dr. Yunus menjelaskan bahwa sebenarnya dia bukanlah ahli perbankan. “I never studied banking in my life”, katanya. Namun lanjutnya, ini adalah kelebihan, sebab terkadang dengan ketidak tahuan tentang sesuatu kita cenderung untuk mencoba. Jika kita telah tahu maka keinginan untuk mencoba sesuatu yang belum pasti pasti tidak kita lakukan.

Lalu apa yang menjadi kunci sukses Grameen bank? Minimal empat yang disebutkan:

Pertama, jika bank konvensional hanya meminjamkan uang kepada mereka yang sudah ada duit (ada jaminan), Grameen bank justeru memberikan pinjaman kepada mereka yang tidak punya apa-apa. “Jika anda tidak mempunya jaminan bagi pinjaman, anda tidak mungkin akan mendapatkan pinjaman”, katanya. Tapi Grameen bank justeru mencari peminjam yang memang tidak berpunya.

Kedua, jika bank konvensional membangun relasi dengan pelanggan dengan jaminan “pengacara”, Grameen bank membangun relasi dengan para pelanggangnya dengan jaminan “kepercayaan” (trust). Seraya berseloroh dia menyampaikan bahwa sebenarnya “legal fees” bisa ditiadakan.

Ketiga, jika bank konvensional meminjamkan uang hanya kepada mereka yang punya kapasitas (kemampuan) dagang, Grameen bank justeru mencari mereka yang mengatakan “saya takut untuk meminjam karena tidak tahu bagaimana memutar keuangan”. Di sini, Grameen membangun “self confidence” kepada para pelanggangnya bahwa mereka punya kapasitas itu, cuma perlu pancingan untuk tampil.

Keempat, jika bank konvensional beroperasi sebagai “money machine” (mesin uang), Grameen bank menambahkan dengan “social system” (sistim sosial). Artinya, dalam beroperasi, bank Grameen juga melihat kepada aspek-aspek hubungan kemanusiaan. Di sinilah kemudian Grameen mengembangkan apa yang disebut dengan “social business” (perusahaan sosial).

Root of poverty
Pada bagian lain, Muhammad Yunus menjelaskan secara detail kenapa kemiskinan terjadi dan bahkan menjadi ancaman paling berbahaya bagi kemanusiaan kita saat ini. Apakah karena memang manusianya? Apakah karena memang demikian kehidupan? Atau karena faktor lain yang menjadi penyebab terjadinya kemiskinan.

Ternyata, menurut Yunus, kemiskinan itu tidak dicari oleh manusia. Manusia bukan faktor terjadinya kemiskinan. Justeru semua manusa berusaha dan bahkan punya potensi untuk kaya. Hanya saja, sistim di mana manusia itu hidup menjadikan potensi untuk sukses itu tidak maksimal.

Di sinilah kemudian bank Grameen melakukan perombakan kepada “established system” yang sekarang. Sistim yang tidak pernah berpihak kepada kaum lemah. Sistim yang dirancang untuk semakin memperkaya mereka yang sudah kaya. Sebaliknya, semakin memiskinkan mereka yang miskin, atau minimal menjadikan mereka “object” untuk memperkaya yang kaya.

Dari sinilah kemudian Grameen menciptakan sistim operasi usaha yang terbalik. Artinya, Grameen menciptakan sistim usaha yang tertolak belakang dengan sistim yang baku (conventional). Dan ternyata, sistim itu tidak saja menguatkan kaum miskin secara ekonomi, tapi lebih dari itu menghidupkan kembali potensi-potensi mereka untuk “empowered” (menjadi kuat) di tengah masyarakat.

Pengalaman bank Grameen yang dimulai dengan beberapa orang miskin, berhasil mengangkat mereka dari dari keadaan yang sangat lemah (weak), menjadi kuat (berdaya) secara ekonomi. Bahkan lebih dari itu, dari situasi di mana mereka telah kehilangan percaya diri (confidence) kembali bangkit dengan penuh percaya diri. Kini, Grameen bank memiliki lebih dari 7.5 juta anggota, 95% mereka adalah wanita miskin dan buta huruf.

Maka, untuk menanggulangi kemiskinan secara efektif harus ada dua hal yang dilakukan:

Pertama, bangkitkan percaya diri (self confidence) masyarakat. Dan ini tidak akan terjadi pada sistim kapitalis yang cenderung menjadikan masyarakat miskin sebagai object. Istilah pinjaman dengan nama “assistance” (bantuan) itu sendiri merupakan sikap yang merendahkan (under estimating) potensi kaum (kelompok atau negara) miskin. Grameen bank menjadikannya anggotanya sebagai bagian atau memiliki kepemilikan dari sistim. Sehingga “sense of belonging” tumbuh dan bangkit keinginan untuk merubah kondisi.

Kedua, Sistim perbankan dan keuangan sekarang ini memang tidak mendukung atau bahkan mendukung terjadinya monopoli. Di sinilah terjadi yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Institusi keuangan sekarang ini hampir semuanya mengarah kepada sistim yang tidak mendukung kebangkitan kaum miskin. Dr. Yunus memberikan contoh IMF (International Monetary Fund) yang, menurutnya, tidak satu negara pun yang pernah meminjam dari IMF menjadi makmur.

Social Business
Dr. Yunus menjelaskan panjang lebar mengenai sistim usaha dunia yang mengglobal saat ini. Sisitm kapitalis, menurutnya, bukan sebuah sistim yang akan menyelamatkan manusia dari “ancaman kemiskinan”. Lebih 94% kekayaan dunia saat ini dinikmati oleh sekitar 40% penduduk dunia, sementara sekitar 60% lainnya hanya membagi-bagi 6% persen kekayaan dunia. Sekitar ½ atau lebih penduduk dunia hidup di bawah $2 sehari dan lebih dari 1 milyar manusia hidup di bawah $1 perhari.

Dengan berbagai berbagai bencana dunia saat ini, seperti AIDS/HIV, Flu burung, maupun bencana alam seperti banjir, tsunami, tanah longsor, kebakaran, dll., mereka yang telah menjadi korban kemiskinan akan semakin miskin. Lalu kemudian, dengan institusi-institusi keuangan dunia dipercayakan untuk meringankan beban-beban mereka. Akankah itu terwujud?

Dengan sistim baku sekarang ini, nampaknya harapan itu jauh. Sebab sistim bisnis sekarang ini memiliki prinsip Profit maximizing business (PMB). Manusia menjadi “money machine” and no more! Sehingga tujuan bisnis dalam sistim kapitalis adalah mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya, dan tanpa ingin tahu apakah itu masih mengikut kepada naluri manusia atau justeru sebenarnya telah mengorbankan “harakat” (kehormatan) manusia.

Dari sinilah kemudian Dr. Yunus memulai sebuah sistim bisnis yang dinamai “Social Business”. Sebuah bisnis yang tidak saja bertujuan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Tapi lebih dari itu, dari semua rangkaian kegiatannya bertujuan untuk mengangkat “martabat” manusia.

Sebagai misal, Dr. Yunus mendirikan sebuah perusahaan pembuatan “yogurt” secara murah dan dijual kepada masyarakat miskin dengan harga yang sangat murah dan terjangkau. Hasil penjualan ini tidak diambil oleh pemilik perusahaan, tapi diakumulasi untuk usaha-usaha lain bagi kaum msikin.

Menurutnya, usaha ini telah membantu berjuta-juta anak yang kekurangan gizi di Bangladesh, bahkan social business Yunus ini telah menjalar hingga ke China.

Beberapa tahun lalu, bisnis sosial (social business) Yunus menarik perhatian sebuah perusahaan besar di Prancis bernama Groupe Danone, sebuah perusahaan yang memproduksi berbagai ragam makanan dan memiliki perusahaan di berbagai belahan dunia.

Groupe Danone ini kemudian meminta untuk bergabung dengan bisnis Grameen dengan sisitm “Social Business” itu. Sejak itu pula bisnis Grameen resmi menjadi Grameen Danone, sebuah bisnis besar yang bertujuan membangun martabat kaum miskin di berbagai belahan dunia.

Kebanggan umat
Akhirnya, banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari ceramah Dr. Muhammad Yunus yang dapat diambil. Yang pasti memang, umat Islam tidak bisa hanya menjadi “penonton yang cerdik” di tengah kancah dunia global sekarang ini. Umat ini harus mampu menampilkan “alternative system” yang dapat mengangkat martabat kaum yang termarjinalkan. Umat ini juga harus mampu kembali membangun “izzah dzatiyah” (self confidence) ditengah-tengah suburnya “wahan” (kehinaan) yang dideritanya.

Tapi hal itu tidak akan terealisir jika umat ini hanya pintar di belakang panggung. Umat ini ditantang untuk terjun ke lapangan dan meperlihatkan atau mempersaksikan kelebihannya kepada umat lain. “Dan demikianlah Kami jadikan kamu sebagai umat pertengahan, agar kamu menjadi saksi bagi umat manusia”. Karena memang bukankah umat ini adalah memang umat yang terbaik (khaera ummatin) yang dimunculkan di hadapan seluruh manusia yang lain?

Professor Yunus adalah saksi. Saksi bagi kebangkitan umat ini kembali. Beliau adalah kebanggaan. Kebanggaan yang memang membanggakan. Semoga semakin banyak Muhammad Yunus lagi di masa depan.

Thanks Professor Yunus!
Catatan: Saya rekomendasikan buku Dr. Muhammad Yunus: A World Without Poverty. Bahasanya sederhana, tapi ditilik dari sudut pandang Islam, sangat mengena.
Read More

Sabtu, 10 April 2010

Wawancara Dengan Manajer Program Asia Rabobank Foundation

Berangkat dari pengalaman Rabobank mengentaskan kehidupan petani di negeri Belanda sejak 1898, Rabobank Foundation kini menjadi salah satu pilar utama bank tersebut dalam menjalankan tanggung jawab sosial perusahaan

Berdiri pada 1973, Rabobank Foundation memfokuskan aktivitasnya pada keuangan mikro, pengembangan rantai pemasok, dan pengembangan koperasi di pedesaan. Prinsip koperasi dipilih, karena lembaga ini percaya bahwa pemberdayaan ekonomi lemah tidak hanya butuh dukungan finansial. Satu paket program yang terintegrasi dan terencana baik merupakan fondasi pemberdayaan itu. Mereka menyebut dukungan terintegrasi itu sebagai platform supply chain .

Kepada wartawan Republika , Palupi Annisa Auliani , Manajer Program Asia Rabobank Foundation, IJ van der Velden, berbagi pandangan mengenai pemberdayaan petani melalui koperasi ini. Berikut petikannya.

Sebelumnya kita sudah mendengar model Grameen Bank untuk pemberdayaan masyarakat miskin dengan pendekatan berbasis kelompok. Bagaimana perbandingan model tersebut dengan apa yang dikembangkan Rabobank Foundation?

Saya mulai dengan persamaan di antara keduanya terlebih dahulu. Rabobank didirikan oleh petani, karena mereka tak bisa mendapat akses perbankan sejak ratusan tahun lalu. Yang mereka lakukan adalah dengan mengorganisasikan diri mereka sendiri dalam kelompok-kelompok kecil. Petani yang membutuhkan dana untuk mengelola lahan mendapat bantuan dana dari petani lain yang kondisi keuangannya lebih baik. Itu model pembiayaan mandiri dalam kelompok petani. Di Grameen, orang-orang miskin juga terorganisasi dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka membangun solidaritas kelompok, sehingga ketika ada anggota kelompok yang tak bisa mengembalikan pinjaman maka anggota kelompok yang lain akan memastikan pinjaman itu terbayar. Itulah persamaan Rabobank sebagai koperasi dan Grameen Bank.

Oke , apa yang kemudian berbeda dari kedua model ini?

Pada model koperasi dari Rabobank, setiap anggota memiliki hak dan kewajiban. Mereka memiliki suara untuk menentukan kebijakan internal organisasi. Keputusan tertinggi diambil suatu dewan anggota. Di Grameen, kebijakan yang diberlakukan dibuat oleh manajemen organisasi, bukan oleh anggota. Pembuatan kebijakan seperti halnya pada perusahaan biasa. Satu lagi, keuntungan usaha dalam model Rabobank ini dibagi kepada seluruh anggota. Sebab, prinsip koperasi adalah melayani anggotanya. Tapi anggota hanya akan mendapat pelayanan terbaik ketika mereka bisa memberikan produk dengan kualitas bagus dan fungsi organisasi berjalan baik.

Sedangkan di Grameen, tidak ada pembagian keuntungan untuk anggota mereka. Bisa saja Grameen berinvestasi di perusahaan telekomunikasi dan sebagainya, tetapi keuntungan yang didapat masuk ke perusahaan. Ini perbedaan yang penting. Karena di model kami, surplus kembali ke anggota sebagai pemilik organisasi. Di Grameen, alokasi surplus diputuskan manajemen.

Ada banyak koperasi dan model yang serupa dengan yang dikembangkan Rabobank Foundation. Apa yang beda dari Rabobank Foundation ini?

Yang membedakan adalah kami melakukan penjajakan yang sangat baik. Kami tak akan mendukung sebuah organisasi atau kelompok jika kami tak benar-benar yakin akan potensinya untuk bisa berkelanjutan secara mandiri. Kami bukan sekadar ada untuk suatu kelompok dalam hitungan sepuluh tahun, misalnya. Tapi kami mendorong mereka, mendorong kelompok ini untuk bisa terus berkegiatan tanpa ada dukungan kami lagi nantinya.

Perbedaan lainnya, kami punya pengetahuan yang sangat baik tentang perbankan, pembiayaan agrikultural, dan tentu saja prinsip koperasi. Kami menyediakan paket dukungan lengkap, tak hanya memberikan bantuan uang. Kami menyediakan dukungan teknik kepada petani untuk meningkatkan kualitas produk, produktivitas, akses ke pasar dengan harga baik, capacity building untuk mengatasi kelemahan dalam pengelolaan uang maupun organisasi.

Apa yang spesifik dari dukungan Rabobank Foundation itu, karena organisasi lain juga melakukannya ?

Penjajakan yang sangat bagus adalah kuncinya. Tidak semua lembaga pendukung bisa bekerja bersama kami (dalam membantu koperasi). Rencana yang sangat detail harus dibuat, baik oleh kelompok petani maupun lembaga-lembaga pendukung yang bekerja sama di sini. Rencana detail sudah memuat tujuan, aktivitas, dan performa indikator. Jika hasil kegiatan tak sesuai dengan rencana tersebut, maka pinjaman dana dihentikan.

Masih ada lagi yang beda dari model ini?

Oh iya, ada satu hal lagi yang menjadi pembeda, meskipun dibandingkan dengan Grameen Bank. Di model koperasi seperti ini, orang harus memiliki tabungan sekecil apa pun nominalnya untuk bisa mendapat pinjaman. Sementara di model Grameen, tanpa menabung orang tetap bisa mendapat pinjaman. Menurut kami, menabung adalah hal yang sangat penting. Menabung lebih penting daripada mendapat pinjaman. Meskipun miskin, orang harus menabung walaupun dengan jumlah sangat kecil.

Bagaimana bentuk dukungan lengkap yang diberikan Rabobank Foundation?

Kami berikan contoh koperasi-koperasi yang sudah bekerja sama dengan kami. Belanda adalah produsen produk susu. Kami berikan dukungan dari konsultan internasional untuk mendukung koperasi susu di sini. Juga kami berikan dukungan kerja sama dengan koperasi kelompok produk sejenis, pembeli, lembaga riset, dan input supplier . Kami menyebutnya sebagai platform supply chain yang bekerja secara terintegrasi.

Banyak yang meragukan itikad dari lembaga pembiayaan asing yang masuk ke sektor mikro Indonesia, karena tidak ada pemberdayaan yang signifikan. Bagaimana pendapat Anda?

Bagi kami yang harus dilihat adalah kebijakan yang dilakukan dalam pembiayaan mikro ini. Tapi, dukungan pembiayaan Rabobank Foundation bukanlah tren semata. Karena kami sudah melakukannya lebih dari 35 tahun. Ini bukan tren. Kami sangat yakin pada kesuksesan model kami, yang sangat berperan dalam pemberdayaan.

Menurut saya, pembiayaan mikro kebanyakan sudah dikomersialkan. Bank komersial memberikan pinjaman tidak dengan bunga yang rendah dan memberikan bantuan ke usaha dengan perkembangan yang beragam, dan bukan berbasis keanggotaan. Sementara model yang kami tawarkan adalah berbasis komunitas. Semua keuntungan yang didapat akan kembali ke komunitas itu, bukan kembali ke lembaga yang memberikan pembiayaan mikro atau hanya dalam bentuk pembagian keuntungan.

Apakah budaya lokal bisa menjadi kendala dalam pengembangan model pemberdayaan mikro berbasis komunitas semacam ini?

Saya tidak melihat ada masalah dengan budaya, tapi memang ada perbedaan yang besar. Amerika, misalnya, budayanya sangat kuat dalam menabung dan kredit koperasi. Di Indonesia dan negara-negara Asia seperti Filipina, banyak koperasi yang tumbuh.

Tapi di Afrika, ada perbedaan pertumbuhan. Bagi kami, situasi di Afrika lebih sulit untuk bekerja. Karena di Afrika banyak sekali pemberi bantuan dana yang berdampak pada sikap penduduk Afrika dalam mengelola pinjaman. Pengembalian pembayaran di Afrika relatif lebih rendah, karena mereka terbiasa mendapat bantuan.

Situasi di Afrika itu terkait juga dengan masalah kesadaran filosofis. Kami percaya pada institusi yang berkelanjutan, karena kami tidak akan memberikan dukungan terus-menerus dalam 10 atau 15 tahun mendatang. Kami hanya ada untuk membawa suatu institusi dari satu level ke level berikutnya, kemudian kami akan melepaskannya untuk survive berbekal proses selama program pendampingan tersebut.

Berapa lama biasanya program Rabobank Foundation ini memberikan bantuan dan pendampingan ?

Pada umumnya program berjalan 3-5 tahun, setelah itu organisasi komunitas tersebut biasanya sudah bisa melanjutkan usahanya sendiri.

Jika dalam 3-5 tahun ternyata koperasi itu tak bisa survive ?

Kalau memang ada alasan yang kuat, seperti situasi eksternal atau bencana alam, kami akan mempertimbangkan untuk memberikan perpanjangan pendampingan dan bantuan. Tapi kalau kegagalan survive itu karena manajemen yang buruk, cut . Fraud, quit directly .

Menurut Anda apakah pola pembiayaan mikro seperti Rabobank Foundation dan Grameen Bank ini bisa menjadi alternatif solusi pemberdayaan masyarakat ekonomi lemah?

Menurut saya kedua model itu bisa menjadi alternatif yang mendukung pembangunan sebuah negara berkembang. Institusi pembiayaan mikro akan mengisi kesenjangan yang selama ini tak terisi oleh bank konvensional. Karena bank konvensional sejauh ini tidak memiliki model dan produk yang tepat untuk melayani kalangan mikro. Satu-satunya jalan bagi bank konvensional jika benar-benar ingin melayani kalangan miskin adalah harus mengembangkan metodologi untuk pinjaman berkelompok.

Rencana strategis untuk Indonesia?

Strategi kami di tahun-tahun mendatang adalah kami akan fokus di area Jawa, Sumatra, dan Sulawesi. Bagaimana pun Indonesia adalah negara yang sangat besar secara geografis. Kami bekerja dengan mitra strategis dalam jumlah terbatas untuk menjangkau petani dalam jumlah besar. Karenanya, kami menggandeng penyedia dukungan teknik yang bagus untuk mendampingi banyak kelompok kecil petani.

Kami bekerja sama dengan Kedutaan Besar Belanda di Indonesia, kami juga bekerja sama dengan banyak klien perbankan dan juga klien perusahaan dengan kompetensi tertentu sebagai penanggung jawab suatu usaha dalam rantai suplai yang berkelanjutan. Kami percaya, kalau kita punya proyek yang didukung keseluruhan rantai suplai tersebut, kita akan lebih sukses.

Ngomong-ngomong , apa yang membuat Anda berminat terjun di bidang pemberdayaan petani berbasis koperasi ini?

Rabobank Foundation menawarkan kesempatan pekerjaan yang berkaitan dengan pembangunan dan pengembangan ekonomi masyarakat dengan skala internasional dan kapasitas yang komprehensif serta unik. Juga dengan adanya akses terhadap pengetahuan dan kapasitas dari Rabobank Grup.

B I O D A T A

IJ van der Velden

Pendidikan:
S2 Ekonomi Internasional, Universitas Utrecht, Belanda

Pekerjaan:
Manajer Program Asia Rabobank Foundation (2007-sekarang). Di jabatan ini, ia membawahi sejumlah negara: India, Indonesia, Sri Lanka, Filipina, Vietnam, Kamboja, dan Laos.

Bunga Lebih Rasional

Selama berbincang dengan Republika , IJ van der Velden didampingi Presiden Direktur dan CEO Rabobank International Indonesia, Henk G Mulder. Bersamanya juga ada Project Officer Rabobank International Indonesia, Hartawan Indriadi.

Di sela wawancara, Henk berpendapat, tidak adanya keberlanjutan pada pembiayaan mikro secara umum adalah karena biasanya bank komersial memberikan pinjaman dengan suku bunga sangat tinggi. Alasannya, sektor ini berisiko tinggi. Memang, model seperti ini akan sangat membantu seseorang di awal usaha, tapi tak bisa untuk sebuah kegiatan jangka panjang yang berkelanjutan. ”Karena bunganya yang tinggi sehingga mereka tidak tumbuh.” kata Henk.

Ini sangat berbeda dengan model yang dikembangkan Rabobank Foundation. Selain memberikan pembiayaan dengan bunga rasional, lembaga ini juga memberikan perlindungan dalam hal harga kepada para petani, bagaimana membangun kemandirian, dan cara membangun relasi dengan pelaku pasar. ”Tak hanya memberikan donasi dan akses ke perbankan, model ini juga mengembangkan rantai pasokan yang melibatkan pula ketersediaan jaringan pembeli dan dukungan teknis,” kata Henk.

Sumber : Harian Republika Senin 5 April 2010.
Read More

Liputan Informasi Umum & Syari'ah

Liputan Informasi Koperasi Ekonomi Syariah Kemenneg KUKM Bank Syariah Dalam Negeri Informasi iB Kebijakan Bank Komunitas Dinas Koperasi dan UKM Politik Ekonomi Mikro Koperasi Syariah Bank indonesia Internasional Republika Online BMT Berbagi Pengalaman Resensi Buku APBN LKM Pasar Tradisional Pembiayaan Asbanda Asbisindo Bank Muamalat Indonesia (BMI) Bank Umum Syari'ah (BUS) Karir Manajemen Motivasi Perbanas Perbankan Syari'ah Bank Indonesia Perbarindo RAPBN Riba Suku Bunga ATM Ahad-Net International Al Ijarah Finance (Alif) Antara Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI) BBM Bersubsidi BNI Syari'ah BPH Migas BPPN BPRS BTN Syari'ah Bagi Hasil Bank Pembangunan Asia (ADB) Bank Pembangunan Islam (IDB) Beras Cerita Sukses DPR Dinar dan Dirham Exer Indonesia GAIKINDO GS Engineering Contruction Corp Gross Tones (GT) Gula Industri Kecil Joint Financing Auto Muamalat K-link Kelompok Bank Indonesia Kerjasama Konversi Bank Syariah Koperasi Internasional Korea investment dan Securities Co Korean Association of Church Communication Kredit Usaha Rakyat Lembaga Penjamin Simpanan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Menteri ESDM Menteri Koordinator Perekonomian Menteri Perdagangan Menteri Perindustrian Minyak Tanah Multi Level Marketing Syari'ah(MLMS) Nasabah Nelayan Obligasi Syari'ah Offshore Corporate Service One Day Approval Organisasi Buruh Internasional (ILO) Otomatif PDB PNBP Pameran Pasar Petisah Medan Pastor Pemegang Saham Pendidikan Perbankan Perikanan Pertamina Premium Produk Properti PusKopSyah BMT Sumut Real Estate Real Time Online SBI SUKUK Situs Berita APIndonesia.Com Solar Sorak Finanial Holdings Pte Ltd Tabungan Tehnologi Teroris Tim Keuangan Syari'ah Korea UFO BKB Uang Palsu Unit Jasa Keuangan Mikro Unit Usaha Syari'ah Utang Indonesia